Mah, siapa bilang orang Indonesia ramah? Ternyata mereka semua individualis. Mah, sebenarnya aku belum betah harus berpisah dengan keluarga. Bayangan mamah, bapa, ade, teteh, saudara, sahabat, pacar. teman adalah salah satu kekuatan yang membuatku terus bertahan. Mah, anak disini pinter-pinter, gaul-gaul, ngomongnya lo-gue. Aku belum terbiasa mah. Aku merasa di negeri asing. Tak ada teman :(
Mah, karena doamu aku akan selalu bertahan. Mah orang sini juga pinter-pinter, kadang aku minder. :(
Kamis, 30 Agustus 2012
Rabu, 29 Agustus 2012
Kisah Masuk UI : "Penantian di Sebuah Senja"
Tak
pernah terbayangkan sebelumnya bahwa di tanggal 26 Mei akan mendapatkan kabar
yang begitu menggembirakan. Bisa lolos seleksi SNMPTN adalah suatu kebahagiaan
dan kebanggaan tersendiri, apalagi lolos di pilihan pertama, Ilmu Administrasi
Fiskal kampus Universitas Indonesia. Inilah kado terindah dari Allah sebagai
jalan yang harus kulewati setelah lulus SMA.
Bagiku
perjalanan ini bukan semata-mata proses yang pendek, namun begitu panjang dan
banyak pengorbanan yang aku rasakan sebelumnya. Semenjak aku duduk di kelas XI
cibiran dan umpatan dibelakangku telah ku jadikan motivasi yang tak terhingga.
Masuk IPS adalah salah satu strategiku untuk masuk di Perpajakan. Namun siapa
yang menyangka, justru wali kelasku sempat marah dan bertanya beberapa kali
dengan keputusan yang telah ku pilih. Beliau menyarankan aku masuk IPA karena menurutnya
title nakalnya anak IPS sudah
mendarah daging semenjak dulu. Bukan hanya itu, sebagian teman-temanku
menganggap bahwa anak IPS adalah “anak buangan”.
Tapi
niatku tak pernah padam untuk masuk jurusan ini. Aku lebih senang berada
diantara anak-anak gokil dengan solidaritas tinggi. Aku menemukan sebuah
atmosfer yang sebelumnya belum aku rasakan. Keceriaan dan kebersamaan dengan mereka
adalah salah satu motivasi untukku sebagai motivasi mewujudkan mimpi dan
cita-citaku.
Perjalanan
selama setahun kulalui dengan penuh suka duka. Tiba saat yang membingungkan dan
begitu membuat semua siswa kelas XII merasakan “kegalauan”. Memilih PTN bukanlah
hal mudah, semua menjadi tanda tanya besar di kepala ini. Seperti halnya
mereka, aku pun sempat merasakan hal yang sama.
Suatu
kabar yang juga menggembirakan hatiku menghampiri dan membuatku harus memilih
keputusan. Termasuk dalam siswa yang direkomendasi sebagai Peserta SNMPTN
Undangan adalah suatu tanggung jawab dan berisiko tinggi. Takut salah untuk
memilih jurusan, takut salah memilih PTN, takut tidak lolos, takut peminatnya
membludak, dan ketakutan-ketakutan lain yang menghiasi perjalanan selama kelas
XII.
Sebuah
keputusan yang membuat keluarga, teman-teman dan guru-guru sedikit heran
dibuatnya. Ya, aku memilih Universitas Indonesia sebagai pilihan di SNMPTN
Undangan. Mereka memang tidak menyalahkanku memilih UI, namun yang mereka
pikirkan adalah pertimbanganku, mengapa memilih PTN dengan kualitas tinggi yang
sebelumnya memang tak pernah ada alumni sekolahku yang lolos lewat SNMPTN
Undangan.
Konseling
dengan guru BK akhirnya kulakukan, banyak masukan dan saran yang mereka
berikan. Dan mereka tidak kaget dengan keputusanku. Mereka justru menyarankan
jika aku ingin masuk jurusan perpajakan, maka aku harus memilih Ilmu Adm.
Fiskal. Namun tak semudah itu, aku menjadi bimbang, karena aku juga menyukai
tantangan Akuntansi. Sempat ingin pindah pilihan adalah hal yang membuatku
pusing. Tapi ternyata temanku juga ada yang memilih Akuntansi UI. Dan aku
berpikir, aku tak ingin memilih jurusan yang sama dengan teman satu sekolah.
Kemudian aku sempat meminta pada temanku itu untuk memilih jurusan yang lain,
karena keinginannya sama denganku. Sayangnya dia tetap pada pendiriannya,
walaupun aku memilih Akuntansi dia juga tetap kan memilihnya.
Maka
aku tetap memilih Ilmu Adm.Fiskal. Keputusanku sudah bulat dan web SNMPTN pun
telah kuisi. Namun, ini semua tak membuatku tenang. Ada salah satu perkataan
rivalku yang sempat membuatku down “Lit,
tong salah milih jurusan jeung PTN, tah ti SMA urang mah can aya nu lolos
SNMPTN Undangan ka UI. Inget da urang teh ti daerah jaba ka Fiskal mah hese.
Ngabejaan we urang mah.” *. Dia berkata sembari memamerkan senyum
sinisnya. Sempat beberapa saat kata-katanya terus kuingat dan aku berniat
menjadikannya angin lalu, namun tak bisa. Aku sempat menyesal dengan pilihanku.
Namun kembali Ibuku memberi semangat untuk tetap berusaha dan berdo’a.
Sebagai
uji kemampuan, di Kabupaten yang berbeda dengan tempat tinggalku, tepatnya di
Tasikmalaya. Ikatan alumninya mengadakan sebuah Try Out SIMAK, aku mendengar
kabar itu dari kakak-kakak yang mensosialisasikan UI ke sekolahku. Meski sempat
kesal juga karena waktu sosialisasi mereka tak datang ke kelasku, karena ada
dari PTN lain yang sedang bersosialisasi juga. Aku pun mendapatkan tiket TO
dari temanku yang berbeda kelas.
Hari
itupun tiba, aku mengikuti kegiatan tersebut dengan tangan kosong, tanpa
persiapan apapun. Setelah menghadapi simulasi soal-soal SIMAK yang begitu
membuatku pusing, akhirnya tiba waktunya untuk pengumuman nilai hasil TO. Aku
sempat tak ingin melihat, namun karena rasa optimisku yang lebih besar akhirnya
aku menyelinap diantara kerumunan dan dengan percaya diri melihat deretan
teratas. “Mana sih namaku? Kok gak ada di deretan teratas?” tanyaku dalan hati.
Setelah aku melirik lebih ke bawah akhirnya kutemukan namaku berada hampir di
deretan terbawah, dan yang lebih membuatku semakin tidak karuan adalah
kualifikasi kelulusan. Disana jelas sekali tertulis “GAGAL”. Sementara kulihat
teman-temanku justru kebanyakan kualifikasinya “COBA LAGI”.
Seketika
perasaan yang tidak enak ini membuatku kembali down. Yang membuatku sangat
menyesal dan heran, mengapa aku bisa berada diurutan terbawah dengan
embel-embel tulisan GAGAL. Namun banyak temanku dari IPA yang mengikuti TO IPS
dan hasilnya di deretan atas dengan kualifikasi COBA LAGI. Sungguh ironis, ini
membuatku berpikir keputusanku memilih UI adalah salah menurutku.
Aku
tidak memberitahukan hal ini pada orangtuaku, apalagi pada ibu. Aku takut
beliau kecewa dan menganggapku gegabah dengan pilihanku sendiri. Tapi kembali
kuserahkan semuanya pada Allah. Keputusanku tak mungkin ku ubah.
Ibu
dan ayahku adalah salah satu motivator terbaikku. Dan ibu pula yang
menyarankanku untuk terus berdoa, sholat malam dan sering menjalankan puasa
sunah Senin-Kamis. Aku pun selalu mempraktikannya, dan alhasil sedikit demi sedikit
rasa optimisku mulai tumbuh. Aku tak pernah menyesal dengan keputusanku, apapun
itu hasilnya, kan ku jadikan jalan Allah untukku.
Dan
Ujian Nasional pun kulewati dengan penuh konsentrasi. Hingga tibalah saat-saat
yang mengharukan, di tanggal 26 pada pagi harinya diumumkan kelulusan. Cemas
juga dengan semua ini karena pengumuman berjalan alot. Banyak sambutan dari sivitas
akademika sekolah. Dan keingintahuanku bersama teman-teman terus menggebu.
Hingga akhirnya Kepala Sekolah mengumumkan bahwa semua siswanya lulus 100 %.
Rasanya senang sekali, air mata mengalir seolah menandakan kebahagiaan yang tak
terkira. Kegiatan dilanjutkan dengan sujud syukur.
Siang
hari, sekitar pukul 14.00 temanku memberikan kabar kalau SNMPTN Undangan
dimajukan, yang semula tanggal 28 menjadi hari ini jam 15.00. Aku sempat tak
percaya dan masih berdiam di rumah pada jam itu. Lalu kemudian ia memberi kabar
lagi kalau dia diterima di PTN yang dipilihnya. Dan dia meminta username dan
passwordku untuk membantuku melihat pengumumannya. Namun sebelum aku
memberikannya, aku mengatakan hal ini pada ibuku. Ibuku menyarankan aku sendiri
yang membukanya. Lolos ataupun tidak itu keputusan yang harus kuterima. Aku pun
diantar ayahku ke sebuah warnet yang tidak jauh dari rumahku.
Aku
membuka webnya, dan ternyata Aku lulus seleksi SNMPTN Undangan di pilihan
pertama. Alhamdulillah beribu syukur kupanjatkan pada Allah swt, aku pulang ke
rumah dengan sangat gembira. Di rumah aku menyampaikan kabar gembira pada
ibuku, beliau memelukku dengan hangat disertai air mata yang membasahi
pundakku, aku pun terlarut dalam perasaan haru dan bahagia.
Ini
kan kujadikan amanah dari Allah swt, akan terus kulalui hari-hari perkuliahan
dengan baik di Universitas terbaik di Indonesia. Dukungan dari semuanya adalah
pemicu untukku agar selalu bersyukur dan berusaha untuk meraih cita-citaku.
Terimakasih untuk Ibu, Ayah, kakak, abangku aku mencintai kalian dengan tulus
semoga aku dapat mempersembahkan yang terbaik untuk kalian semua. Salam hangat
dariku, Lita Kodariah yang sangat membutuhkan motivasi dari kalian semua.
*
“Lit, jangan salah memilih jurusan sama PTN, nah dari SMA kita belom ada yang
lolos SNMPTN Undangan ke UI. Ingat kita dari daerah apalagi ke Fiskal itu susah.
Saya cuma ngasih tau aja.”
Cerita Ospek UI :)
Sebuah kegiatan Orientasi Kehidupan Kampus (OKK) sudah
selayaknya diisi dengan berbagai kegiatan pengenalan wawasan wiyatamandala. Sebelumnya,
bagi saya yang terlintas adalah kegiatan yang membosankan dan hanya akan
menjadi diskriminasi bagi mahasiswa baru. Tapi, ternyata di Universitas
Indonesia tidak seperti itu, kegiatan orientasi berjalan efektif dan jauh dari
dugaan sebelumnya. Berbagi talk show dan kegiatan edukatif lainnya, mampu
mengisi dab mengubah pandangan otak “siswa” menjadi seorang “mahasiswa”.
Sebelumnya, display UKM adalah sesi yang sangat
panjang (5 Agustus), namun tak menutup semangat untuk menyimak acara dari pagi
hingga sore. Sebenarnya penampilan Paragita adalah penampilan yang wajib
ditonton, namun sayang hari itu Paragita tidak tampil, tapi tak apa marching
band dan teater serta UKM lainnya sangat menghibur.
Nah untuk hari pertama OKK yang berlangsung sejak
tanggal 12 Agustus, hal yang paling menarik dari sesi pertama adalah talk show
“K2N Membangun Kepedulian untuk Indonesia” karena dari kegiatan tersebut, saya
bisa tahu dedikasi UI untuk Indonesia, masuk ke pulau “terdepan” untuk
memberikan sebuah kepedulian untuk masyarakat yang masih kental akan tradisi
budaya nenek moyangnya adalah suatu kegiatan yang berbeda dengan KKN di
Universitas lain. Hal yang tak kalah menarik adalah saat pemutaran film K vs K,
sebelumnya film edukatif tergolong monoton dan kurang diminati remaja, namun di
film ini berbeda dan saya cukup antusias menonton film tersebut.
Selanjutnya hari kedua OKK, hari ini pun diikuti
dengan begitu antusias, apalagi ada Bapak Dahlan Iskan dan Pak Raden dalam
sebuah talk shownya, mereka memberikan pandangan mengenai pergerakan mahasiswa
dan peran pemuda bagi Indonesia di masa depan.
Hal yang tak kalah menarik adalah ketika Ketua BEM
UI memberikan semangat yang luar biasa “Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia
!”. Kata-kata itu yang menggetarkan dan mampu membuat Balairung menjadi gemuruh
dengan semangat membara. Ia menegaskan bahwa ditangan mahasiswa terjadi
perubahan dan mahasiswa mempunyai peranan penting dalam perubahan.
Tentu sangatlah rugi apabila kita meninggalkan OKK,
karena banyak pelajaran yang bisa kita petik. Banyak teladan yang bisa kita
contoh, banyak sikap dan karakter yang akan membuat kita menjadi pribadi yang
lebih baik lagi. Semoga OKK mampu mencetak mahasiswa sebagaimana kodratnya
sebagai manusia yang dimanusiakan !
Lita Kodariah, FISIP Adm.Fiskal 2012
Langganan:
Komentar (Atom)