Kamis, 03 Januari 2013

Tugas Otoetnografi :)


Aku Tanpa Keluarga :
Sebuah Etnografi Biografi

Lita Kodariah
1206212741
Ilmu Administrasi Fiskal
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, Depok 16424


Abstrak

Tulisan ini memaparkan pengalaman pribadi sebagai bagian dari penelitian otoetnografi. Selama kurang lebih enam bulan terakhir, saya mencoba mengingat dan mengumpulkan dokumen pribadi sebagai cara untuk menyelesaikan peneliti ini. Saya mencoba memberikan gambaran kehidupan manusia sebagai seorang perempuan yang beranjak dewasa. Seorang perempuan yang mengalami perubahan sikap dan perubahan pola prilaku dalam menjalani kehidupan. Kemandirian yang hadir di tengah lingkungan yang berbeda dengan lingkungan sebelumnya, memaksa saya untuk tidak bergantung pada peran orangtua. Kebudayaan yang berbeda pula memaksa saya untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan lingkungan yang baru, lingkungan kosan baru serta lingkungan perkuliahan di kampus Universitas Indonesia.

Kata Kunci : adaptasi, keluarga, lingkungan.


Pendahuluan
            Waktu terus berlalu, semua berjalan mengikuti detik yang berdetak. Tak sedetik pun aku mampu berpaling dari sang waktu, hidup harus ku jalani dalam sebuah putaran yang tak bisa dihentikan dengan sendirinya. Hidup memang tak selalu berjalan semulus jalan tol, batu kerikil dan kelokan yang berada jauh di depan kini mampu mengubah setiap langkah yang akan aku ambil. Perubahan kehidupan di masa peralihan dari masa SMA hingga masuk perkuliah merupakan masa-masa genting yang sebelumnya tak pernah ku bayangkan. Lingkungan yang baru, mengajariku untuk hidup mandiri. Sebagai seorang gadis yang beranjak dewasa, ketergantungan akan sosok orangtua dengan lambat laun memudar dengan sendirinya. Aku harus menjalani hidup jauh dari keluarga, demi melanjutkan cita-citaku untuk kuliah di Universitas Indonesia.

Keluargaku di Ciamis
            Aku merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Bapakku bekerja sebagai pegawai negeri sipil di salah satu kantor kecamatan di Ciamis. Sementara ibuku merupakan seorang pedagang sembako yang membuka warung di depan rumah. Kakakku kuliah di salah satu PTN di Bandung dan adikku masih duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar. Kehidupan keluargaku berjalan harmonis, aku senang berada di tengah mereka. Di tengah keluarga yang benar-benar memberikan kasih sayang penuh untuk anaknya, hingga aku merasa dimanja oleh mereka.
            Setiap pagi ketika ayam-ayam mulai berkokok, aku selalu dibangunkan oleh ibu atau bapakku, mereka membangunkanku secara halus. Kemudian aku terbangun dan melaksanakan sholat subuh serta melakukan persiapan untuk berangkat ke sekolah. Seragam dan sepatuku telah dipersiapkan terlebih dahulu oleh ibuku. Aku memang tak terbiasa mencuci dan menyetrika sendiri baju-baju seragamku. Karena hanya sekali dalam seminggu aku membantu ibu untuk mencuci pakaian, itu pun hanya pakaian kecil milik adikku. Tapi ibu tak pernah mempermasalahkannya, bagi ibu kemauanku untuk membantu saja sudah membuat ibu merasa senang. Sementara itu, bapakku bersiap mengantarkan ibu ke pasar untuk belanja, lalu pulang kembali dan meninggalkan ibu di pasar karena ia pun harus bersiap-siap pergi ke kantor. Ia juga terbiasa membawakan makanan dari pasar untuk sarapan keluarga di rumah jika sebelumnya ibu tak sempat membuatkan kami sarapan. Bapak, aku dan adikku terbiasa sarapan bersama, kami terbiasa makan tanpa menggunakan sendok jika memang lauknya tak berkuah. Selain itu kami tak pernah mengeluarkan satu kata pun ketika kami sedang makan. Karena inilah kebudayaan yang diajarkan masyarakat daerah Ciamis saat makan, yang disebut Conrad P. Kottak dalam bukunya Cultural Anthropology Appreciating Cultural Diversity sebagai konsep kebudayaan yang dipelajari (Conrad P Cottak, 2011).
            Sepulangnya dari sekolah, aku selalu membantu ibu untuk menjaga warung atau sekedar membantunya memasak. Walaupun ia tak pernah memintaku secara langsung untuk membantunya. Namun agaknya sudah kewajiban seorang mojang[1] untuk berada di dapur. Hal ini sesuai dengan sebuah ungkapan “awéwé mah tempatna di dapur[2] (Edi S.Ekadjati, 1995). Setelah membantu ibu, biasanya aku mengerjakan tugas sekolah atau belajar untuk persiapan esok hari.
            Setiap malam merupakan tempat berkumpulnya keluarga, kami menonton televisi bersama atau sekedar berbincang menceritakan kejadian dan kegiatan masing-masing anggota keluarga. Bercanda gurau dengan mereka, menghilangkan kepenatan akan pelajaran dan tugas sekolah yang cukup membuatku lelah. Sebulan terakhir saat masa-masa Ujian Nasional, aku tak terbiasa lagi tidur sendirian, karena aku sering bermimpi buruk tengah malam. Maka aku sering meminta adikku yang masih SD untuk tidur di kamarku, kadang aku juga meminta ibu untuk menemaniku tidur. Setiap kali ibuku menemani tidur, ia terbiasa nyaliksik[3] hingga aku tertidur pulas. Kadang, ia juga mengingatkan aku untuk selalu menjaga kadedeuh[4] (kasih sayang) pada keluarga. Karena menurutnya, ridlho orangtua lah yang akan mengantarkan kita pada kesuksesan.
            Bagiku, kecintaan akan keluarga merupakan hal yang harus ada dalam setiap anggota keluarga. Apalagi ibuku selalu mengajari untuk memberikan cinta kasih pada ibu dan bapak. Beliau selalu berkata bahwa orang Sunda harus tahu bagaimana sopan santun yang harus dilakukan seorang anak terhadap orangtuanya. Beliau juga mengingatkan agar selalu bertutur kata halus, aku harus menggunakan undak usuk basa[5] bila berkata dengan orang Sunda lainnya. Daerah Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Sukabumi dan Cianjur menggunakan bahasa Sunda yang tergolong halus, diantara daerah Sunda lainnya. Kehalusan bahasa Sunda Priangan (Ciamis, Tasikmalaya, Garut dan sekitarnya) disebabkan karena daerah tersebut pernah mendapat pegaruh kultural dari Mataram Islam. (Harjoso, 1979).
            Dari apa yang diajarkan orangtua padaku, menunjukan bahwa keluargaku telah memenuhi fungsi kebutuhan organis dalam kebudayaan. Sesuai dengan pernyataan Malinowski yang menyebutkan “human paternity.. which appears at first at almost lacking in biological foundation can be shown to be deeply rooted in natural endowment and organic need.”  (J.van Bal, 1988)

Kepergianku
            Aku selalu mengikuti kata hatiku dalam mengambil sebuah keputusan. Ibu dan bapakku memang selalu mendukung niat baikku. Aku mencoba mendaftarkan diri lewat jalur undangan di Perguruan Tinggi Favorit di Indonesia, yaitu Universitas Indonesia. Aku memilih jurusan Ilmu Administrasi Fiskal, karena selain aku dari jurusan IPS yang senang dengan akuntansi, pilihan ini juga dilatarbelakangi oleh keinginan bapakku. Tak disangka sebelumnya, aku ternyata diterima di Universitas tersebut. Sebelumnya, memang tak ada alumni dari sekolahku yang bisa tembus di perguruan setinggi UI.
            Aku mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan masa perkuliahanku nanti. Apalagi ibuku sibuk mempersiapkan peralatan kosan serta baju-baju yang akan ku bawa dari Ciamis ke Depok. Setiap hari aku diberi ceramah dan pencerahan oleh orangtuaku. Aku menganggap ini berlebihan, karena mereka memberikan nasehat setiap ada waktu. Aku kadang merasa bosan dengan topik yang mereka bahas.
            Sebelum aku benar-benar pergi ke Depok, semua sadulur dekeut[6] aku kunjungi. Aku pergi bersama ibuku. Beliau selalu mengutarakan maksud kepergianku pada mereka. Lalu mereka memberikan sesuatu untukku, entah itu sekedar uang jajan, atau pakaian serta barang lain yang bisa aku gunakan nanti. Selain itu mereka juga mendoakanku, dan kebanyakan dari mereka menangis dan tiba-tiba memeluk penuh kasih serta mengingatkanku agar tidak lupa melaksanakan sholat lima waktu jika sudah jauh dari orangtua. Awalnya aku merasa biasa saat mengunjungi satu saudara saja, namun lama kelamaan ada rasa haru dan enggan untuk berpisah dengan mereka, kadang aku ikut menangis dan hanyut dalam suasana, begitu pula dengan ibuku. Orang Sunda memang terkenal jarang merantau, mereka terbiasa hidup dan berkumpul bersama-sama. Sifat particularity (Conrad P Kottak, 2011) ini mungkin hanya dimiliki oleh orang berkebudayaan Sunda.
            Proses pemintaan ijin pada saudara dekat sudah selesai, aku pikir tak akan ada acara seperti ini lagi. Namun, di sore harinya ibuku mengajak aku pergi ke pemakaman. Aku rasa ibu akan mengajakku ziarah biasa. Memang di makam Nini dan Aki (Nenek dan Kakek) ibuku memanjatkan do’a, setelah itu mengutarakan maksud kedatangannya, layaknya orang bercerita bahwa aku akan pergi jauh ke Depok untuk melanjutkan perjalanan belajar.
            Setibanya di rumah, ibuku memberikan bacaan berupa wirid yang harus kubaca setiap aku selesai sholat. Menurutnya, itu merupakan bacaan yang akan mendatangkan pahala dan memberikan ketentraman serta keselamatan. Ibuku sengaja meminta wirid tersebut pada Akang Kiyai (Ustad). Aku menerimanya dan berterimakasih atas itu semua. Tak hanya itu, aku melihat ibu sibuk menghubungi sadulur jauh[7]. Ia kembali meminta do’a untuk kepergianku. Aku sempat berpikir “Sebegitu jauh kah Ciamis-Depok? Mengapa ibu sangat khawatir dengan kepergianku, seolah aku tidak akan kembali ke Ciamis?”. Akhirnya ibuku menjelaskan semua yang ia lakukan kepadaku memang tradisi sejak lama dalam Budaya Sunda yang disebut dengan tanda kaul[8].  (Harjoso, 1979). Kebudayaan ini disebut juga dengan kebudayaan lokal yang disebut level of culture yang dimiliki etnis Sunda (Corrad P.Cottak, 2011).
            Akhirnya tiba sudah kepergianku ke Depok. Aku diantar oleh ibuku, sementara bapakku menggantikan peran ibu untuk mengurus adik kecilku. Aku membawa barang-barang dalam jumlah yang cukup banyak, sebelumnya saudaraku menawarkan untuk mengantarkan kepergianku ke Depok dengan menggunakan mobilnya. Tapi ibuku tak mau merepotkannya, ibu memilih berangkat memakai travel saja. Akhirnya aku berangkat berdua dengan ibuku.
Pilihanku jatuh pada tempat kos, walaupun ada asrama tetapi aku tidak mendaftarkan diri terlebih dahulu. Karena aku tak tahu letak dan suasana asrama seperti apa. Yang ada dalam pikiranku asrama itu menyeramkan dan banyak setannya. Akhirnya aku mendapat kosan dari orang yang kutemui saat daftar ulang. Kosan itu terletak di daerah Kukusan Teknik. Ibu membantuku membereskan kamar baru. Ia juga menginap satu hari di kamar kosanku. Sebenarnya aku tak ingin berpisah dengan ibu, namun apa daya ibu harus pulang dan meninggalkanku sendiri di Depok.

Masa Adaptasi
Kamar kosanku sangat kecil hanya cukup untuk meletakkan kasur yang digelar di bawah, meja belajar yang juga kecil serta lemari dan sajadah tempat sholat. Selain itu kamarku tak berjendela, ventilasi yang ada juga sangat minim. Ini memang sebanding dengan harga yang dibebankan, harganya tiga ratus lima puluh ribu rupiah perbulan. Kosan yang tergolong murah di daerah Kutek (Kukusan Teknik).
Sehari saja ditinggal pergi aku menangis. Di kamar kosan yang seadanya, aku menumpahkan semua tangisku. Bayang-bayang keluargaku selalu muncul setiap kali aku melihat handphone yang berisi photo-photo keluarga. Ibu yang baik, bapak yang bijak, adik yang lucu, kakakku di Bandung. Bayangan mereka datang silih berganti. Aku seolah tak ada teman, tak ada tempat berbagi. Tak ada pijakan. Tak ada lagi yang membangunkanku, tak ada lagi yang memelukku, tak ada yang menemaniku tidur, tak ada yang mempersiapkan keperluanku untuk kuliah, tak ada yang mencucikan bajuku, tak ada yang menyiapkan sarapan. Semua tak ada, semua hilang. Sehari saja aku berada di kosan baru, setahun rasanya aku berada di dalamnya. Aku merasa ini bukan tempat yang cocok untukku.
            Di kosan baruku terdapat sepuluh kamar, empat kamar pada lantai pertama dan enam kamar lagi berada di lantai kedua. Rata-rata dari penghuni kamar tersebut adalah mahasiswi D3 CCIT di Fakultas Teknik. Hanya aku dan Tsania (mahasiswa baru Fakultas MIPA) yang berasal dari fakultas berbeda. Aku rasa aku harus beradaptasi dengan mereka semua. Aku harus menyesuaikan diri dan mencoba berbaur dengan mereka.
            Tapi ini merupakan hal yang sulit bagiku, aku tak bisa berbaur begitu cepat dengan mereka. Aku tidak suka dengan mereka yang berbicara dengan suara lantang, apalagi jika mereka membawa teman-temannya ke kosan untuk melakukan kerja kelompok. Aku sangat merasa tidak nyaman dengan kebisibgan ini semua. Belum lagi, anak ibu kos yang bernama Zaky, ia sangat nakal dan tak bisa diam. Saat aku belajar, ia selalu masuk ke kamarku, memainkan semua barang-barang yang ada di meja belajar. Aku memang suka anak kecil, tapi aku tak suka anak yang hiperaktif seperti dia.
            Setiap kali keluargaku menghubungi, aku selalu menangis. Aku selalu mengutarakan bahwa ini bukan tempat yang tepat untukku. Aku ingin pindah, karena aku memang tidak betah berada di tempat ini. Aku tak mampu beradaptasi dengan lingkungan baruku.
Entahlah, setiap malam aku menangis bila mengingat kehidupan sebelum aku memasuki masa kuliah. Ibuku selalu mengingatkan agar aku tetap kuat berada di tempat yang baru. Aku harus mampu beradaptasi dan menyatu dengan mereka. Menurutnya kesulitanku beradaptasi hanya akan berlangsung satu atau dua bulan saja. Karena dulu kakakku juga seperti itu.
            Inilah mungkin yang disebut dengan cultural shock yang pertama kali dikemukakan Kalvero Oberg (1958) . Yaitu semacam penyakit mental yang tidak disadari korbannya, yang terjadi saat berpindah dari kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan sebelumnya.
Tapi aku terus berpikir mencari tempat yang benar-benar cocok untuuku. Aku tak mungkin pindah sekarang, karena aku kasian pada ibu. Ia telah membayar tiga bulan untuk uang sewa kamar kos. Memang aturan kos di tempat ini untuk pembayaran pertama harus untuk tiga bulan.
           
Masa Perkuliahan
            Tak ada seorangpun yang aku kenal di kelas. Teman-temanku berubah setiap aku pindah kelas. Mata kuliah wajib fakultas memaksa aku untuk berinteraksi dengan teman-teman baru yang berbeda sikap dan karakter. Namun aku tak merasa terbebani, karena topik yang aku bahas dengan mereka masih nyambung. Berbeda jika aku berada di kosan dan berbaur dengan mereka dari Fakultas Teknik.
            Aku menjalani perkuliahan dengan sedikit rasa yang aneh. Sebelumnya aku tidak sesibuk ini, setiap dosen dalam mata kuliah selalu memberikan tugas. Aku hampir bosan mendengar kata tugas. Biasanya aku belajar jika ada ulangan saja, namun sekarang berbeda. Aku harus mempunyai “bekal” sebelum aku memasuki kelas. Aku juga merasa was-was setiap memasuki kelas Pengantar Perpajakan, karena dosenku selalu memberikan tes-tes kecil setelah sesi menjelaskan selesai. Sementara itu, aku merasa pelajaran Akuntansi yang aku terima ketika SMA berbeda dengan Akuntansi yang aku pelajari, lebih rumit dan lebih kompleks.
            Kadang sehabis kuliah, aku menghubungi orangtuaku, aku merasa aku sulit menjalani masa-masa perkuliahan. Tugas yang banyak, materi-materi baru yang aku terima serta kuis-kuis yang ada selalu menghantui pikiranku. Entah apa yang terjadi padaku, aku merasa aku ingin keluar saja. Aku ingin berhenti kuliah saja. Tapi aku ingat kembali pada tujuan awalku. Aku ingin menimba ilmu, aku ingin membahagiakan orangtuaku.
            Suasana di FISIP yang begitu ramai, kadang membuatku tak senang. Aku terkejut dengan wanita yang berpakaian minim, begitu juga dengan wanita yang merokok. Sebelumnya aku tak pernah menemukan suasana seperti ini di kampungku. Ciri perbedaan pakaian ini termasuk dalam konsep kebudayaan yang yang didasarkan pada lambang. Lislie White dalam William A Haviland (William A Haviland, 1985). Sementara, aku menilai kebiasaan merokok para wanita sebagai sebuah deviant yang merupakan hasil dari adanya kebudayaan aktual. Hal ini memang menimbulkan kesalahan, karena aku membandingkan dengan kebudayaan ideal (Conrad P. Kottak) yang ada di daerahku.
Apalagi ketika aku mengunjungi kantin Aku juga sempat berniat ramah pada beberapa orang yang baru aku kenal. Aku tersenyum pada mereka, namun mereka tak membalas senyumku, hanya beberapa saja yang membalas senyumku. Bahkan diantara mereka ada yang sempat bertanya karena aku senyum pada mereka “apakah kita pernah mengenal sebelumnya?” aku terdiam dengan pertanyaan seperti itu. Dia berlalu, dan tersenyum kecut padaku. Di daerahku senyum merupakan kehangatan, orang sana menyebutnya someah (tanda keramahan dengan memberikan senyum) tapi di sini mungkin aku dianggap “sok kenal sok dekat” pada mereka yang belum aku kenal sebelumnya. Akhirnya aku memberikan labelling bahwa mereka tidak ramah pada sesama. Aku kembali melakukan kesalahan, aku menilai kebudayaan disini dengan menggunakan nilai-nilai kebudayaan di daerahku. Barangkali aku telah melakukan proses etnosentrisme. (Conrad P Kottak, 2011) yang seharusnya aku dapat melakukan apa yang disebut William A Haviland sebagai relativisme kebudayaan, yakni menilai kebudayaan berdasarkan norma-norma dan nilai-nilainya sendiri (William A Haviland, 1985).
            Aku juga menemukan hal yang berbeda di sini. Ketika aku mengikuti sebuah kepanitiaan, yaitu Simposium Pendidikan Tinggi, aku menemukan tak ada jenjang sikap dengan sebuah aturan khusus antara senior dan junior sesama panitia. Walaupun kepanitian tersebut terdiri dari angkatan 2011 dan 2012 (mahasiswa baru) tetapi aku merasa tak ada perbedaan yang signifikan. Kami berkomunikasi biasa, bahkan diantara kami ada juga yang saling menyapa dengan sebutan nama saja, tanpa menyertakan sebutan “kakak” untuk menyapa yang lebih tua, dan sebutan “adik” untuk yang lebih muda. Sementara di kampungku dulu, sebutan seperti ini sangat berpengaruh sebagai rasa hormat dan saling menghargai. Baik itu sebutan akang, teteh, ceuceu ataupun ade[9],  sebelum memanggil namanya. Kenisbiaan kebudayaan (Ihromi, 1984) kembali mempengaruhi sikapku, aku menilai kebudayaan menurut “kacamata” budayaku sendiri.
            Aspek bahasa juga sangat berpengaruh saat aku menjalani kuliah. Dengan terbiasanya menggunakan Bahasa Sunda dengan dialek yang halus dan pelan kadang teman baruku dapat secara langsung mengetahui bahwa aku berasal dari Sunda. Selain itu kadang aku memasukkan sedikit kata-kata dari bahasa sunda dalam percakapan, karena aku belum terbiasa menggunakan sepenuhnya Bahasa Indonesia. Perbedaan bahasa antara Ciamis dan Depok ini termasuk dalam salah satu aspek konsep kebudayaan dalam tujuh unsur universal kebudayaan yang disebutkan oleh B. Malinowski, yaitu aspek bahasa. (Munandar Soelaeman, 2005)
            Aku menceritakan kesulitanku pada Ibu, sikap ramah yang disangka sok kenal sok dekat, bahasa Indonesiaku yang masih campur aduk dengan bahasa sunda dan tak adanya perbedaan penghormatan perlakuan antara kaum muda dan tua (honorofic) di sini. Perbedaan itu aku ceritakan semuanya. Ibuku kembali mengingatkanku bahwa aku harus terbiasa dengan lingkungan baru yang harus kujalani. Jika dianalogikan, Ibu menyarankan sebuah proses belajar yang disebut enkulturasi (Conrad P Kottak, 2011).
Sahabat
            Akupun memiliki sahabat baru, dia satu jurusan denganku, namanya Fahimah. Ia lebih senang aku panggil Fay, dan akupun menuruti kemauannya. Ia berasal dari daerah Tegal. Jika ada tugas jurusan, aku mengerjakan bersamanya. Aku merasa cocok bisa bershabat dengannya, karena beberapa persamaan sikap dan kesukaan antara kami (contoh dari etnic stereotipe). Namun kadang dalam beberapa perbedaan pendapat dengannya, aku sering mengalah. Kebanyakan orang Sunda jika bergaul dengan etnis lain sering kalah atau sengaja mengalah untuk menghindari konflik yang  muncul, Orang Sunda menyebutnya dengan sebutan ngelehan maneh[10]. (Edi S. Ekadjati, 1995).
Setiap aku mengerjakan tugas di tempat dia, yaitu asrama ada kesenangan tersendiri. Aku merasa nyaman dengan kamarnya, suasananya tenang, tidak bising seperti di kosanku. Aku bisa berfokus mengerjakan tugas. Inilah tempat yang kucari aku ingin tinggal di asrama. Dengan bantuan Fay pula aku mengajukan surat permohonan pada pihak asrama untuk bisa menempati salah satu kamar di asrama. Setelah menunggu proses selama kurang lebih empat hari aku diterima untuk menempati asrama. Aku senang sekali mendengar hal ini.

Asrama          
            Tempat baru, semangat baru. Aku akan memulai kehidupan baru dengan ceria, dengan penuh senyuman. Aku menempati kamar di Gedung F2 lantai 2 nomor 32. Nomor yang menurutku unik dan aku memang menyukai angka 2, karena angka itu adalah angka kelahiranku. Memang tak ada hubungan tersendiri antara angka di kamarku dengan angka kelahiran. Namun aku sangat senang menempati tempat baruku ini.
Kamarku yang sekarang berjendela, aku dapat melihat langsung keadaan di luar. Rumput yang hijau dan suasana pagi yang sejuk bisa ku nikmati langsung dari balik jendela. Luasnya memang tak seberapa, dan hampir sama dengan kamar kosanku dulu. Tetapi aku bisa lebih tenang dalam mengerjakan tugas dan aku bisa fokus untuk belajar.
            Setiap malam aku tidak lagi menangis jika ingat keluargaku. Dengan bangganya aku menghubungi ibu bahwa aku nyaman berada di sini. Aku pun memiliki kakak baru. Kamarnya berada di depan kamarku. Namanya Dindha Primadini. Ia merupakan mahasiswi 2011 jurusan Manajemen di Fakultas Ekonomi. Aku sering bercerita tentang keadaanku ketika aku baru menginjakan kaki di Depok. Dia hanya tersenyum kecil, karena menurutnya kesulitanku beradaptasi memang efek biasa yang ditimbulkan ketika pertama kalinya seseorang berada jauh dari keluarganya, sebut saja homesick.

Penutup
            Aku memang sadar dengan keadaanku yang tak dapat beradaptasi dengan cepat, adaptasi kultural (William A Haviland, 1985). Aku menilai diriku harus berubah untuk mencoba belajar menyesuaikan diri dan menjadi objek yang harus bereaksi terhadap diri sendiri, self awarness (William A Haviland, 1985). Di asrama aku tak ingin seperti di kosan. Aku tak ingin menangis lagi sepanjang malam karena ingat keluargaku di kampung. Aku memang harus ingat pada mereka, namun tidak juga dengan cara menangis setiap malam.
            Selain itu aku harus bisa menerima kebudayaan yang berbeda di lingkungan Depok dengan Ciamis. Aku tak akan lagi menyamakan dengan hanya melihat dari sisi kebudayaanku saja. Aku juga harus menerima lingkungan kampusku yang memang mahasiswanya heterogen. Aku akan membuka diri menerima ini semua.
            Penyesuaian diriku terhadap budaya di Ciamis dan Depok dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor dalam diriku sendiri yaang merupakan watak (traits) dan kecakapan (skill). Watak, yang berupa emosional, keberanian, tanggungjawab yang ada, memaksaku untuk menyesuaikan diri. Sementara, skill mencakup segala sesuatu yang dapat dipelajari mengenai lingukungan kebudayaan yang dimasuki, seperti bahasa, adat-istiadat dan tata-krama, keadaaan geografi dan keadaan ekonomi di tempat baru. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Brislin dalam (Munandar Soelaeman, 2005).  
            Aku mengerti bahwa kebudayaan dan individu saling berhubungan. Hubungan antara aku dan orang-orang di Depok mempengaruhi kebudayaan baru yang aku terima. Ini pula yang sering disebut dengan kebudayaan individu dalam konteks konsep “praktek” (Conrad P. Kottak, 2011). Barangkali aku juga perlu melakukan akulturasi yang disebut Kottak sebagai mekanisme kedua perubahan budaya.

Referensi
Baal, van. 1988. Sejarah Dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya. Jakarta: Gramedia.
Ekadjati, Edi. 1995. Kebudayaan Sunda (Suatu Pengantar Sejarah). Jakarta: Pustaka Jaya.
Haviland, William. 1985. Antropology 4th Edition. CBS College Publishing.
Ihromi. 1984. Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Jakarta: Gramedia.
Koentjaraningrat. 1979. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta Pusat: Djambatan.
Kottak, P Conrad. 2011. Cultural Anthropology Appreciating Cultural Diversity. Connect Learn Succed.
Soelaeman, Munandar. 2005. Ilmu Budaya Dasar. Bandung: Refika Aditama.


[1] perawan
[2] wanita tempatnya di dapur
[3] mengelus halus rambut
[4] kasih sayang
[5] tata bahasa Sunda
[6] saudara dekat
[7] saudara jauh
[8] proses permohonan dan restu sebelum melakukan perjalanan jauh yang dalam kebudayaan sunda
[9]  mas, sebutan kakak untuk perempuan, adik
[10] mengalah sendiri