Aku Tanpa Keluarga :
Sebuah Etnografi Biografi
Lita Kodariah
1206212741
Ilmu
Administrasi Fiskal
Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, Depok 16424
Abstrak
Tulisan
ini memaparkan pengalaman pribadi sebagai bagian dari penelitian otoetnografi.
Selama kurang lebih enam bulan terakhir, saya mencoba mengingat dan
mengumpulkan dokumen pribadi sebagai cara untuk menyelesaikan peneliti ini. Saya
mencoba memberikan gambaran kehidupan manusia sebagai seorang perempuan yang
beranjak dewasa. Seorang perempuan yang mengalami perubahan sikap dan perubahan
pola prilaku dalam menjalani kehidupan. Kemandirian yang hadir di tengah
lingkungan yang berbeda dengan lingkungan sebelumnya, memaksa saya untuk tidak
bergantung pada peran orangtua. Kebudayaan yang berbeda pula memaksa saya untuk
menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan lingkungan yang baru, lingkungan kosan
baru serta lingkungan perkuliahan di kampus Universitas Indonesia.
Kata
Kunci : adaptasi, keluarga, lingkungan.
Pendahuluan
Waktu
terus berlalu, semua berjalan mengikuti detik yang berdetak. Tak sedetik pun aku
mampu berpaling dari sang waktu, hidup harus ku jalani dalam sebuah putaran yang
tak bisa dihentikan dengan sendirinya. Hidup memang tak selalu berjalan semulus
jalan tol, batu kerikil dan kelokan yang berada jauh di depan kini mampu
mengubah setiap langkah yang akan aku ambil. Perubahan kehidupan di masa
peralihan dari masa SMA hingga masuk perkuliah merupakan masa-masa genting yang
sebelumnya tak pernah ku bayangkan. Lingkungan yang baru, mengajariku untuk
hidup mandiri. Sebagai seorang gadis yang beranjak dewasa, ketergantungan akan
sosok orangtua dengan lambat laun memudar dengan sendirinya. Aku harus menjalani
hidup jauh dari keluarga, demi melanjutkan cita-citaku untuk kuliah di
Universitas Indonesia.
Keluargaku di Ciamis
Aku
merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Bapakku bekerja sebagai pegawai
negeri sipil di salah satu kantor kecamatan di Ciamis. Sementara ibuku
merupakan seorang pedagang sembako yang membuka warung di depan rumah. Kakakku
kuliah di salah satu PTN di Bandung dan adikku masih duduk di bangku kelas
empat Sekolah Dasar. Kehidupan keluargaku berjalan harmonis, aku senang berada
di tengah mereka. Di tengah keluarga yang benar-benar memberikan kasih sayang
penuh untuk anaknya, hingga aku merasa dimanja oleh mereka.
Setiap
pagi ketika ayam-ayam mulai berkokok, aku selalu dibangunkan oleh ibu atau
bapakku, mereka membangunkanku secara halus. Kemudian aku terbangun dan
melaksanakan sholat subuh serta melakukan persiapan untuk berangkat ke sekolah.
Seragam dan sepatuku telah dipersiapkan terlebih dahulu oleh ibuku. Aku memang
tak terbiasa mencuci dan menyetrika sendiri baju-baju seragamku. Karena hanya
sekali dalam seminggu aku membantu ibu untuk mencuci pakaian, itu pun hanya
pakaian kecil milik adikku. Tapi ibu tak pernah mempermasalahkannya, bagi ibu
kemauanku untuk membantu saja sudah membuat ibu merasa senang. Sementara itu,
bapakku bersiap mengantarkan ibu ke pasar untuk belanja, lalu pulang kembali
dan meninggalkan ibu di pasar karena ia pun harus bersiap-siap pergi ke kantor.
Ia juga terbiasa membawakan makanan dari pasar untuk sarapan keluarga di rumah
jika sebelumnya ibu tak sempat membuatkan kami sarapan. Bapak, aku dan adikku
terbiasa sarapan bersama, kami terbiasa makan tanpa menggunakan sendok jika
memang lauknya tak berkuah. Selain itu kami tak pernah mengeluarkan satu kata
pun ketika kami sedang makan. Karena inilah kebudayaan yang diajarkan
masyarakat daerah Ciamis saat makan, yang disebut Conrad P. Kottak dalam
bukunya Cultural Anthropology Appreciating Cultural Diversity sebagai konsep kebudayaan
yang dipelajari (Conrad P Cottak, 2011).
Sepulangnya
dari sekolah, aku selalu membantu ibu untuk menjaga warung atau sekedar
membantunya memasak. Walaupun ia tak pernah memintaku secara langsung untuk
membantunya. Namun agaknya sudah kewajiban seorang mojang[1]
untuk berada di dapur. Hal ini sesuai dengan sebuah ungkapan “awéwé mah tempatna di dapur”[2]
(Edi S.Ekadjati, 1995). Setelah membantu ibu, biasanya aku mengerjakan tugas
sekolah atau belajar untuk persiapan esok hari.
Setiap
malam merupakan tempat berkumpulnya keluarga, kami menonton televisi bersama
atau sekedar berbincang menceritakan kejadian dan kegiatan masing-masing
anggota keluarga. Bercanda gurau dengan mereka, menghilangkan kepenatan akan
pelajaran dan tugas sekolah yang cukup membuatku lelah. Sebulan terakhir saat
masa-masa Ujian Nasional, aku tak terbiasa lagi tidur sendirian, karena aku
sering bermimpi buruk tengah malam. Maka aku sering meminta adikku yang masih
SD untuk tidur di kamarku, kadang aku juga meminta ibu untuk menemaniku tidur.
Setiap kali ibuku menemani tidur, ia terbiasa nyaliksik[3] hingga aku tertidur pulas. Kadang, ia
juga mengingatkan aku untuk selalu menjaga kadedeuh[4] (kasih sayang) pada keluarga. Karena
menurutnya, ridlho orangtua lah yang akan mengantarkan kita pada kesuksesan.
Bagiku,
kecintaan akan keluarga merupakan hal yang harus ada dalam setiap anggota
keluarga. Apalagi ibuku selalu mengajari untuk memberikan cinta kasih pada ibu
dan bapak. Beliau selalu berkata bahwa orang Sunda harus tahu bagaimana sopan
santun yang harus dilakukan seorang anak terhadap orangtuanya. Beliau juga
mengingatkan agar selalu bertutur kata halus, aku harus menggunakan undak usuk basa[5]
bila berkata dengan orang Sunda lainnya. Daerah Ciamis, Tasikmalaya, Garut,
Sumedang, Sukabumi dan Cianjur menggunakan bahasa Sunda yang tergolong halus,
diantara daerah Sunda lainnya. Kehalusan bahasa Sunda Priangan (Ciamis,
Tasikmalaya, Garut dan sekitarnya) disebabkan karena daerah tersebut pernah
mendapat pegaruh kultural dari Mataram Islam. (Harjoso, 1979).
Dari
apa yang diajarkan orangtua padaku, menunjukan bahwa keluargaku telah memenuhi
fungsi kebutuhan organis dalam kebudayaan. Sesuai dengan pernyataan Malinowski
yang menyebutkan “human paternity.. which
appears at first at almost lacking in biological foundation can be shown to be
deeply rooted in natural endowment and organic need.” (J.van Bal, 1988)
Kepergianku
Aku
selalu mengikuti kata hatiku dalam mengambil sebuah keputusan. Ibu dan bapakku
memang selalu mendukung niat baikku. Aku mencoba mendaftarkan diri lewat jalur
undangan di Perguruan Tinggi Favorit di Indonesia, yaitu Universitas Indonesia.
Aku memilih jurusan Ilmu Administrasi Fiskal, karena selain aku dari jurusan
IPS yang senang dengan akuntansi, pilihan ini juga dilatarbelakangi oleh
keinginan bapakku. Tak disangka sebelumnya, aku ternyata diterima di Universitas
tersebut. Sebelumnya, memang tak ada alumni dari sekolahku yang bisa tembus di
perguruan setinggi UI.
Aku
mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan masa
perkuliahanku nanti. Apalagi ibuku sibuk mempersiapkan peralatan kosan serta baju-baju
yang akan ku bawa dari Ciamis ke Depok. Setiap hari aku diberi ceramah dan
pencerahan oleh orangtuaku. Aku menganggap ini berlebihan, karena mereka
memberikan nasehat setiap ada waktu. Aku kadang merasa bosan dengan topik yang
mereka bahas.
Sebelum
aku benar-benar pergi ke Depok, semua sadulur
dekeut[6] aku kunjungi. Aku pergi bersama ibuku.
Beliau selalu mengutarakan maksud kepergianku pada mereka. Lalu mereka
memberikan sesuatu untukku, entah itu sekedar uang jajan, atau pakaian serta
barang lain yang bisa aku gunakan nanti. Selain itu mereka juga mendoakanku,
dan kebanyakan dari mereka menangis dan tiba-tiba memeluk penuh kasih serta
mengingatkanku agar tidak lupa melaksanakan sholat lima waktu jika sudah jauh
dari orangtua. Awalnya aku merasa biasa saat mengunjungi satu saudara saja,
namun lama kelamaan ada rasa haru dan enggan untuk berpisah dengan mereka,
kadang aku ikut menangis dan hanyut dalam suasana, begitu pula dengan ibuku.
Orang Sunda memang terkenal jarang merantau, mereka terbiasa hidup dan
berkumpul bersama-sama. Sifat particularity
(Conrad P Kottak, 2011) ini
mungkin hanya dimiliki oleh orang berkebudayaan Sunda.
Proses
pemintaan ijin pada saudara dekat sudah selesai, aku pikir tak akan ada acara
seperti ini lagi. Namun, di sore harinya ibuku mengajak aku pergi ke pemakaman.
Aku rasa ibu akan mengajakku ziarah biasa. Memang di makam Nini dan Aki (Nenek
dan Kakek) ibuku memanjatkan do’a, setelah itu mengutarakan maksud
kedatangannya, layaknya orang bercerita bahwa aku akan pergi jauh ke Depok
untuk melanjutkan perjalanan belajar.
Setibanya
di rumah, ibuku memberikan bacaan berupa wirid yang harus kubaca setiap aku
selesai sholat. Menurutnya, itu merupakan bacaan yang akan mendatangkan pahala
dan memberikan ketentraman serta keselamatan. Ibuku sengaja meminta wirid
tersebut pada Akang Kiyai (Ustad). Aku menerimanya dan berterimakasih atas itu
semua. Tak hanya itu, aku melihat ibu sibuk menghubungi sadulur jauh[7]. Ia kembali meminta do’a untuk
kepergianku. Aku sempat berpikir “Sebegitu jauh kah Ciamis-Depok? Mengapa ibu
sangat khawatir dengan kepergianku, seolah aku tidak akan kembali ke Ciamis?”.
Akhirnya ibuku menjelaskan semua yang ia lakukan kepadaku memang tradisi sejak
lama dalam Budaya Sunda yang disebut dengan tanda
kaul[8]. (Harjoso, 1979). Kebudayaan ini disebut juga
dengan kebudayaan lokal yang disebut level
of culture yang dimiliki etnis Sunda (Corrad P.Cottak, 2011).
Akhirnya
tiba sudah kepergianku ke Depok. Aku diantar oleh ibuku, sementara bapakku
menggantikan peran ibu untuk mengurus adik kecilku. Aku membawa barang-barang
dalam jumlah yang cukup banyak, sebelumnya saudaraku menawarkan untuk
mengantarkan kepergianku ke Depok dengan menggunakan mobilnya. Tapi ibuku tak
mau merepotkannya, ibu memilih berangkat memakai travel saja. Akhirnya aku
berangkat berdua dengan ibuku.
Pilihanku jatuh pada
tempat kos, walaupun ada asrama tetapi aku tidak mendaftarkan diri terlebih
dahulu. Karena aku tak tahu letak dan suasana asrama seperti apa. Yang ada
dalam pikiranku asrama itu menyeramkan dan banyak setannya. Akhirnya aku
mendapat kosan dari orang yang kutemui saat daftar ulang. Kosan itu terletak di
daerah Kukusan Teknik. Ibu membantuku membereskan kamar baru. Ia juga menginap
satu hari di kamar kosanku. Sebenarnya aku tak ingin berpisah dengan ibu, namun
apa daya ibu harus pulang dan meninggalkanku sendiri di Depok.
Masa Adaptasi
Kamar kosanku sangat
kecil hanya cukup untuk meletakkan kasur yang digelar di bawah, meja belajar
yang juga kecil serta lemari dan sajadah tempat sholat. Selain itu kamarku tak
berjendela, ventilasi yang ada juga sangat minim. Ini memang sebanding dengan
harga yang dibebankan, harganya tiga ratus lima puluh ribu rupiah perbulan.
Kosan yang tergolong murah di daerah Kutek (Kukusan Teknik).
Sehari saja ditinggal pergi
aku menangis. Di kamar kosan yang seadanya, aku menumpahkan semua tangisku.
Bayang-bayang keluargaku selalu muncul setiap kali aku melihat handphone yang
berisi photo-photo keluarga. Ibu yang baik, bapak yang bijak, adik yang lucu, kakakku
di Bandung. Bayangan mereka datang silih berganti. Aku seolah tak ada teman,
tak ada tempat berbagi. Tak ada pijakan. Tak ada lagi yang membangunkanku, tak
ada lagi yang memelukku, tak ada yang menemaniku tidur, tak ada yang
mempersiapkan keperluanku untuk kuliah, tak ada yang mencucikan bajuku, tak ada
yang menyiapkan sarapan. Semua tak ada, semua hilang. Sehari saja aku berada di
kosan baru, setahun rasanya aku berada di dalamnya. Aku merasa ini bukan tempat
yang cocok untukku.
Di
kosan baruku terdapat sepuluh kamar, empat kamar pada lantai pertama dan enam
kamar lagi berada di lantai kedua. Rata-rata dari penghuni kamar tersebut
adalah mahasiswi D3 CCIT di Fakultas Teknik. Hanya aku dan Tsania (mahasiswa
baru Fakultas MIPA) yang berasal dari fakultas berbeda. Aku rasa aku harus
beradaptasi dengan mereka semua. Aku harus menyesuaikan diri dan mencoba
berbaur dengan mereka.
Tapi
ini merupakan hal yang sulit bagiku, aku tak bisa berbaur begitu cepat dengan
mereka. Aku tidak suka dengan mereka yang berbicara dengan suara lantang,
apalagi jika mereka membawa teman-temannya ke kosan untuk melakukan kerja
kelompok. Aku sangat merasa tidak nyaman dengan kebisibgan ini semua. Belum
lagi, anak ibu kos yang bernama Zaky, ia sangat nakal dan tak bisa diam. Saat
aku belajar, ia selalu masuk ke kamarku, memainkan semua barang-barang yang ada
di meja belajar. Aku memang suka anak kecil, tapi aku tak suka anak yang
hiperaktif seperti dia.
Setiap
kali keluargaku menghubungi, aku selalu menangis. Aku selalu mengutarakan bahwa
ini bukan tempat yang tepat untukku. Aku ingin pindah, karena aku memang tidak
betah berada di tempat ini. Aku tak mampu beradaptasi dengan lingkungan baruku.
Entahlah, setiap malam
aku menangis bila mengingat kehidupan sebelum aku memasuki masa kuliah. Ibuku
selalu mengingatkan agar aku tetap kuat berada di tempat yang baru. Aku harus
mampu beradaptasi dan menyatu dengan mereka. Menurutnya kesulitanku beradaptasi
hanya akan berlangsung satu atau dua bulan saja. Karena dulu kakakku juga
seperti itu.
Inilah
mungkin yang disebut dengan cultural
shock yang pertama kali dikemukakan Kalvero Oberg (1958) . Yaitu semacam penyakit mental yang
tidak disadari korbannya, yang terjadi saat berpindah dari kebudayaan yang
berbeda dengan kebudayaan sebelumnya.
Tapi aku terus berpikir
mencari tempat yang benar-benar cocok untuuku. Aku tak mungkin pindah sekarang,
karena aku kasian pada ibu. Ia telah membayar tiga bulan untuk uang sewa kamar
kos. Memang aturan kos di tempat ini untuk pembayaran pertama harus untuk tiga
bulan.
Masa Perkuliahan
Tak
ada seorangpun yang aku kenal di kelas. Teman-temanku berubah setiap aku pindah
kelas. Mata kuliah wajib fakultas memaksa aku untuk berinteraksi dengan
teman-teman baru yang berbeda sikap dan karakter. Namun aku tak merasa terbebani,
karena topik yang aku bahas dengan mereka masih nyambung. Berbeda jika aku
berada di kosan dan berbaur dengan mereka dari Fakultas Teknik.
Aku
menjalani perkuliahan dengan sedikit rasa yang aneh. Sebelumnya aku tidak
sesibuk ini, setiap dosen dalam mata kuliah selalu memberikan tugas. Aku hampir
bosan mendengar kata tugas. Biasanya aku belajar jika ada ulangan saja, namun
sekarang berbeda. Aku harus mempunyai “bekal” sebelum aku memasuki kelas. Aku
juga merasa was-was setiap memasuki kelas Pengantar Perpajakan, karena dosenku
selalu memberikan tes-tes kecil setelah sesi menjelaskan selesai. Sementara
itu, aku merasa pelajaran Akuntansi yang aku terima ketika SMA berbeda dengan
Akuntansi yang aku pelajari, lebih rumit dan lebih kompleks.
Kadang
sehabis kuliah, aku menghubungi orangtuaku, aku merasa aku sulit menjalani
masa-masa perkuliahan. Tugas yang banyak, materi-materi baru yang aku terima
serta kuis-kuis yang ada selalu menghantui pikiranku. Entah apa yang terjadi
padaku, aku merasa aku ingin keluar saja. Aku ingin berhenti kuliah saja. Tapi
aku ingat kembali pada tujuan awalku. Aku ingin menimba ilmu, aku ingin
membahagiakan orangtuaku.
Suasana
di FISIP yang begitu ramai, kadang membuatku tak senang. Aku terkejut dengan
wanita yang berpakaian minim, begitu juga dengan wanita yang merokok.
Sebelumnya aku tak pernah menemukan suasana seperti ini di kampungku. Ciri perbedaan
pakaian ini termasuk dalam konsep kebudayaan yang yang didasarkan pada lambang.
Lislie White dalam William A Haviland (William A Haviland, 1985). Sementara,
aku menilai kebiasaan merokok para wanita sebagai sebuah deviant yang merupakan hasil dari adanya kebudayaan aktual. Hal ini memang menimbulkan kesalahan, karena aku
membandingkan dengan kebudayaan ideal (Conrad
P. Kottak) yang ada di daerahku.
Apalagi ketika aku
mengunjungi kantin Aku juga sempat berniat ramah pada beberapa orang yang baru
aku kenal. Aku tersenyum pada mereka, namun mereka tak membalas senyumku, hanya
beberapa saja yang membalas senyumku. Bahkan diantara mereka ada yang sempat
bertanya karena aku senyum pada mereka “apakah kita pernah mengenal
sebelumnya?” aku terdiam dengan pertanyaan seperti itu. Dia berlalu, dan
tersenyum kecut padaku. Di daerahku senyum merupakan kehangatan, orang sana
menyebutnya someah (tanda keramahan
dengan memberikan senyum) tapi di sini mungkin aku dianggap “sok kenal sok
dekat” pada mereka yang belum aku kenal sebelumnya. Akhirnya aku memberikan labelling bahwa mereka tidak ramah pada
sesama. Aku kembali melakukan kesalahan, aku menilai kebudayaan disini dengan
menggunakan nilai-nilai kebudayaan di daerahku. Barangkali aku telah melakukan proses etnosentrisme. (Conrad P Kottak, 2011) yang seharusnya aku dapat
melakukan apa yang disebut William A Haviland sebagai relativisme kebudayaan, yakni menilai kebudayaan berdasarkan
norma-norma dan nilai-nilainya sendiri (William A Haviland, 1985).
Aku
juga menemukan hal yang berbeda di sini. Ketika aku mengikuti sebuah
kepanitiaan, yaitu Simposium Pendidikan Tinggi, aku menemukan tak ada jenjang
sikap dengan sebuah aturan khusus antara senior dan junior sesama panitia.
Walaupun kepanitian tersebut terdiri dari angkatan 2011 dan 2012 (mahasiswa
baru) tetapi aku merasa tak ada perbedaan yang signifikan. Kami berkomunikasi
biasa, bahkan diantara kami ada juga yang saling menyapa dengan sebutan nama
saja, tanpa menyertakan sebutan “kakak” untuk menyapa yang lebih tua, dan
sebutan “adik” untuk yang lebih muda. Sementara di kampungku dulu, sebutan
seperti ini sangat berpengaruh sebagai rasa hormat dan saling menghargai. Baik
itu sebutan akang, teteh, ceuceu ataupun
ade[9],
sebelum memanggil namanya. Kenisbiaan
kebudayaan (Ihromi, 1984) kembali mempengaruhi sikapku, aku menilai kebudayaan
menurut “kacamata” budayaku sendiri.
Aspek
bahasa juga sangat berpengaruh saat aku menjalani kuliah. Dengan terbiasanya menggunakan
Bahasa Sunda dengan dialek yang halus dan pelan kadang teman baruku dapat
secara langsung mengetahui bahwa aku berasal dari Sunda. Selain itu kadang aku
memasukkan sedikit kata-kata dari bahasa sunda dalam percakapan, karena aku
belum terbiasa menggunakan sepenuhnya Bahasa Indonesia. Perbedaan bahasa antara
Ciamis dan Depok ini termasuk dalam salah satu aspek konsep kebudayaan dalam
tujuh unsur universal kebudayaan yang disebutkan oleh B. Malinowski, yaitu
aspek bahasa. (Munandar Soelaeman, 2005)
Aku
menceritakan kesulitanku pada Ibu, sikap ramah yang disangka sok kenal sok
dekat, bahasa Indonesiaku yang masih campur aduk dengan bahasa sunda dan tak adanya
perbedaan penghormatan perlakuan antara kaum muda dan tua (honorofic) di sini. Perbedaan itu aku ceritakan semuanya. Ibuku
kembali mengingatkanku bahwa aku harus terbiasa dengan lingkungan baru yang
harus kujalani. Jika dianalogikan, Ibu menyarankan sebuah proses belajar yang
disebut enkulturasi (Conrad P Kottak,
2011).
Sahabat
Akupun
memiliki sahabat baru, dia satu jurusan denganku, namanya Fahimah. Ia lebih
senang aku panggil Fay, dan akupun menuruti kemauannya. Ia berasal dari daerah
Tegal. Jika ada tugas jurusan, aku mengerjakan bersamanya. Aku merasa cocok
bisa bershabat dengannya, karena beberapa persamaan sikap dan kesukaan antara
kami (contoh dari etnic stereotipe).
Namun kadang dalam beberapa perbedaan pendapat dengannya, aku sering mengalah. Kebanyakan
orang Sunda jika bergaul dengan etnis lain sering kalah atau sengaja mengalah
untuk menghindari konflik yang muncul,
Orang Sunda menyebutnya dengan sebutan ngelehan
maneh[10]. (Edi S. Ekadjati, 1995).
Setiap aku mengerjakan
tugas di tempat dia, yaitu asrama ada kesenangan tersendiri. Aku merasa nyaman
dengan kamarnya, suasananya tenang, tidak bising seperti di kosanku. Aku bisa
berfokus mengerjakan tugas. Inilah tempat yang kucari aku ingin tinggal di
asrama. Dengan bantuan Fay pula aku mengajukan surat permohonan pada pihak
asrama untuk bisa menempati salah satu kamar di asrama. Setelah menunggu proses
selama kurang lebih empat hari aku diterima untuk menempati asrama. Aku senang
sekali mendengar hal ini.
Asrama
Tempat
baru, semangat baru. Aku akan memulai kehidupan baru dengan ceria, dengan penuh
senyuman. Aku menempati kamar di Gedung F2 lantai 2 nomor 32. Nomor yang menurutku
unik dan aku memang menyukai angka 2, karena angka itu adalah angka kelahiranku.
Memang tak ada hubungan tersendiri antara angka di kamarku dengan angka kelahiran.
Namun aku sangat senang menempati tempat baruku ini.
Kamarku yang sekarang
berjendela, aku dapat melihat langsung keadaan di luar. Rumput yang hijau dan suasana
pagi yang sejuk bisa ku nikmati langsung dari balik jendela. Luasnya memang tak
seberapa, dan hampir sama dengan kamar kosanku dulu. Tetapi aku bisa lebih
tenang dalam mengerjakan tugas dan aku bisa fokus untuk belajar.
Setiap
malam aku tidak lagi menangis jika ingat keluargaku. Dengan bangganya aku
menghubungi ibu bahwa aku nyaman berada di sini. Aku pun memiliki kakak baru. Kamarnya
berada di depan kamarku. Namanya Dindha Primadini. Ia merupakan mahasiswi 2011
jurusan Manajemen di Fakultas Ekonomi. Aku sering bercerita tentang keadaanku
ketika aku baru menginjakan kaki di Depok. Dia hanya tersenyum kecil, karena
menurutnya kesulitanku beradaptasi memang efek biasa yang ditimbulkan ketika
pertama kalinya seseorang berada jauh dari keluarganya, sebut saja homesick.
Penutup
Aku
memang sadar dengan keadaanku yang tak dapat beradaptasi dengan cepat, adaptasi kultural (William A Haviland,
1985). Aku menilai diriku harus berubah untuk mencoba belajar menyesuaikan diri
dan menjadi objek yang harus bereaksi terhadap diri sendiri, self awarness (William A Haviland,
1985). Di asrama aku tak ingin seperti di kosan. Aku tak ingin menangis lagi
sepanjang malam karena ingat keluargaku di kampung. Aku memang harus ingat pada
mereka, namun tidak juga dengan cara menangis setiap malam.
Selain
itu aku harus bisa menerima kebudayaan yang berbeda di lingkungan Depok dengan
Ciamis. Aku tak akan lagi menyamakan dengan hanya melihat dari sisi
kebudayaanku saja. Aku juga harus menerima lingkungan kampusku yang memang
mahasiswanya heterogen. Aku akan membuka diri menerima ini semua.
Penyesuaian diriku terhadap budaya
di Ciamis dan Depok dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor dalam diriku
sendiri yaang merupakan watak (traits)
dan kecakapan (skill). Watak, yang
berupa emosional, keberanian, tanggungjawab yang ada, memaksaku untuk
menyesuaikan diri. Sementara, skill mencakup
segala sesuatu yang dapat dipelajari mengenai lingukungan kebudayaan yang
dimasuki, seperti bahasa, adat-istiadat dan tata-krama, keadaaan geografi dan
keadaan ekonomi di tempat baru. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh
Brislin dalam (Munandar Soelaeman, 2005).
Aku mengerti bahwa kebudayaan dan
individu saling berhubungan. Hubungan antara aku dan orang-orang di Depok
mempengaruhi kebudayaan baru yang aku terima. Ini pula yang sering disebut
dengan kebudayaan individu dalam konteks konsep “praktek” (Conrad P. Kottak, 2011). Barangkali aku juga perlu
melakukan akulturasi yang disebut
Kottak sebagai mekanisme kedua perubahan budaya.
Referensi
Baal, van. 1988.
Sejarah Dan Pertumbuhan Teori Antropologi
Budaya. Jakarta: Gramedia.
Ekadjati, Edi.
1995. Kebudayaan Sunda (Suatu Pengantar
Sejarah). Jakarta: Pustaka Jaya.
Haviland,
William. 1985. Antropology 4th Edition. CBS College Publishing.
Ihromi. 1984. Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Jakarta:
Gramedia.
Koentjaraningrat.
1979. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta Pusat: Djambatan.
Kottak, P
Conrad. 2011. Cultural Anthropology
Appreciating Cultural Diversity. Connect Learn Succed.
Soelaeman,
Munandar. 2005. Ilmu Budaya Dasar. Bandung:
Refika Aditama.