Senin, 08 Februari 2016

Semester Akhir

Assalamualaikum Wr.Wb

Tak terasa besok adalah awal yang baru bagi mahasiswa semester genap, dan biasanya saya mempersiapkan diri untuk hari pertama kuliah. Ada yang sedikit yang berbeda, kali ini saya menginjak semester ke delapan. Tandanya saya berada di tingkat empat dan sudah tidak ada lagi masa perkuliahan. Sekarang tinggal saya sendiri yang harus mengatur, kegiatan yang akan dilakukan dan program penulisan skripsi. 

Pada awal-awal kuliah saya telah banyak menjudge bahwa disini begini begini begini, dan ternyata sebagian judgement saya ada yang benar dan tidak sepenuhnya salah. Tetapi satu hal yang harus digaris bawahi bahwa tidak sepatutnya kita menjudge sesuatu sebelum kita mengetahui hal tersebut secara mendalam. Demikian pula hal itu terjadi kepada saya, buktinya sekarang saya sudah terbiasa dengan suasana kuliah, dengan lingkungan sekitar dan orang-orang dalam berinteraksi. Ya, semua memang butuh adaptasi. 

Kali ini saya sedang berada pada puncak di mana seorang mahasiswa tingkat akhir disibukkan dengan tugas akhir atau skripsi. Banyak sekali cerita-cerita dari senior dari mulai yang manis hingga yang pahit dalam perjalanan menulis skripsi. Sebenarnya saya sudah berada di tengah-tengah perjalanan, karena perjalanan di mulai sekitar Bulan Oktober 2015 di mana saya mendapatkan pembimbing skripsi. Dari sana lah cerita tentang suka dukanya skripsi di mulai. Sebenarnya saya ingin bercerita banyak tentang hal itu. Tetapi setelah kemarin mendengarkan ceramah siang hari di Kementerian Keuangan salah satu amanat dari penceramah yang saya ingat adalah "Janganlah menceritakan kesulitan, karena sesungguhnya kemudahan itu berawal dari kesulitan" kurang lebih seperti itu amanatnya. Jadi saya akan menceritakan kesulitannya setelah semua kemudahan yang saya dapatkan nanti akan segera terasa. 

Mohon doanya saja untuk saya agar dapat menyusun skripsi dengan baik dan saya bermaksud mengaktifkan kembali blog ini. Semoga bisa yaa. Aamiin,

Wassalamualaikum. Salam hangat dari Lita :) 

Kamis, 13 Maret 2014

Analisis Anggaran Subsidi Pendidikan menurut Public Expenditure Management



Analisis Fiskal Agregat, Operasional Efisiensi dan Efisiensi Alokasi terhadap Anggaran Subsidi Pendidikan (BOS)
Agregat Fiskal/ Fiskal Disiplin terpenuhi, Alokasi Efisiensi belum sepenuhnya terpenuhi, Efisiensi Operasional tidak terpenuhi






                Pada tahun 2013 pemerintah menganggarkan biaya fungsi pendidikan sebesar  Rp118,5 triliun, atau sekitar 20% dari total anggaran belanja. Dalam hal ini sebesar Rp.23,4 triliun atau sekitar 5% dari biaya fungsi pendidikan merupakan dana untuk subsidi yang diberikan oleh pemerintah atau disebut juga Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
            Terkait dengan agregat fiskal disiplin yang berhubungan dengan pengeluaran dan pendapatan, biaya untuk fungsi pendidikan telah memenuhi aturan 20% dari total anggaran belanja, hal ini berarti telah mencerminkan amanat dari konstitusi atau telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Akan tetapi pada kenyataannya terjadi perbedaan antara anggaran belanja fungsi pendidikan yang semakin naik terhadap penyerapan anggaran belanja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang semakin menurun. Apakah yang menyebabkan perbedaan ini?
Hal ini mungkin terjadi karena adanya pembatasan belanja yang dilakukan oleh Kemendikbud terhadap anggaran yang diberikan oleh Kementerian Keuangan. Realisasi anggaran belanja pendidikan oleh Kemendikbud dialokasikan untuk mencapai misi (1) program penelitian dan pengembangan Kemendikbud; (2) program pendidikan dasar; (3) program pendidikan menengah; (4) program pendidikan tinggi; (5) program pengembangan profesi pendidik dan tenaga kependidikan dan penjamin mutu pendidikan, dan (6) program pelestarian budaya.  Dalam hubungannya dengan alokasi efisiensi hal ini telah memenuhi prinsip tersebut.
Dari adanya misi Kemendikbud tersebut, sebagian dari unsur alokasi efisiensi terpenuhi karena dalam membuat sebuah anggaran diperlukan tujuan yang harus dicapai. Dalam hal ini Kemendikbud memiliki misi atau target jelas yang ingin dicapai. Atas misi tersebut maka dihasilkanlah output yang berupa pembangunan Unit Sekolah Baru, yaitu SMP : 2.432, SMA 283 sekolah, perpustakaan SMA dan SMK sebanyak 2.338 dan 607 perpustakaan, BOS untuk SD dan SMP tersalurkan untuk 36,6 juta siswa pada tahun 2009, 36,0 juta siswa pada tahun 2010, 36,1 juta siswa pada tahun 2011 dan 36,6 juta siswa pada tahun 2012, pencapaian kualifikasi guru.
Hal yang disayangkan, bahwa dengan tujuan dan misi yang telah dijelaskan ternyata direalisasikan dengan berbagai output yang kebanyakan berupa pembangunan Unit Sekolah Baru saja. Yang berarti bahwa alokasi efisiensi yang dicapai sebagian besar belum merepresentasikan dari misi yang sebelumnya ditetapkan. Karena yang dimaksud dengan program pengembangan, bukan hanya terhadap kuantitas saja (berupa penambahan unit bangunan sekolah) tetapi harus juga memperhatikan kualitas dari fasilitas yang sudah ada sebelumnya.
Dilihat dari segi efisiensi operasional, hal ini jelas belum memenuhi prinsip tersebut, karena biaya operasional disini tidak diperhitungkan dengan baik. Penambahan unit sekolah baru memang bagus. Akan tetapi harus juga diperhatikan biaya perawatan untuk unit-unit baru tersebut. Karena banyaknya unit baru mengindikasikan bahwa banyak pula unit-unit yang harus dirawat dan diperbaiki setiap tahunnya. Seharusnya kualitas akan mutu pendidikan terus ditingkatkan dengan kualitas guru yang semakin baik, buku-buku pelajaran tersedia dan biaya pendidikan yang terjangkau.