Analisis Fiskal Agregat, Operasional
Efisiensi dan Efisiensi Alokasi terhadap Anggaran Subsidi Pendidikan (BOS)
Pada tahun 2013 pemerintah
menganggarkan biaya fungsi pendidikan sebesar Rp118,5 triliun, atau sekitar 20%
dari total anggaran belanja. Dalam hal ini sebesar Rp.23,4 triliun atau sekitar
5% dari biaya fungsi pendidikan merupakan dana untuk subsidi yang diberikan
oleh pemerintah atau disebut juga Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Terkait dengan agregat fiskal disiplin yang berhubungan dengan pengeluaran dan
pendapatan, biaya untuk fungsi pendidikan telah memenuhi aturan 20% dari total
anggaran belanja, hal ini berarti telah mencerminkan amanat dari konstitusi
atau telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Akan
tetapi pada kenyataannya terjadi perbedaan antara anggaran belanja fungsi
pendidikan yang semakin naik terhadap penyerapan anggaran belanja Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan yang semakin menurun. Apakah yang menyebabkan
perbedaan ini?
Hal
ini mungkin terjadi karena adanya pembatasan belanja yang dilakukan oleh Kemendikbud
terhadap anggaran yang diberikan oleh Kementerian Keuangan. Realisasi anggaran
belanja pendidikan oleh Kemendikbud dialokasikan untuk mencapai misi (1) program penelitian dan pengembangan
Kemendikbud; (2) program pendidikan dasar; (3) program pendidikan menengah; (4)
program pendidikan tinggi; (5) program pengembangan profesi pendidik dan tenaga
kependidikan dan penjamin mutu pendidikan, dan (6) program pelestarian budaya. Dalam hubungannya dengan alokasi efisiensi hal
ini telah memenuhi prinsip tersebut.
Dari adanya misi Kemendikbud
tersebut, sebagian dari unsur alokasi efisiensi terpenuhi karena
dalam membuat sebuah anggaran diperlukan tujuan yang harus dicapai. Dalam hal
ini Kemendikbud memiliki misi atau target jelas yang ingin dicapai. Atas misi
tersebut maka dihasilkanlah output yang berupa pembangunan Unit Sekolah Baru,
yaitu SMP : 2.432, SMA 283 sekolah, perpustakaan SMA dan SMK sebanyak 2.338 dan
607 perpustakaan, BOS untuk SD dan SMP tersalurkan untuk 36,6 juta siswa pada
tahun 2009, 36,0 juta siswa pada tahun 2010, 36,1 juta siswa pada tahun 2011
dan 36,6 juta siswa pada tahun 2012, pencapaian kualifikasi guru.
Hal yang disayangkan, bahwa
dengan tujuan dan misi yang telah dijelaskan ternyata direalisasikan dengan
berbagai output yang kebanyakan berupa pembangunan Unit Sekolah Baru saja. Yang
berarti bahwa alokasi efisiensi yang
dicapai sebagian besar belum merepresentasikan dari misi yang sebelumnya
ditetapkan. Karena yang dimaksud dengan program pengembangan, bukan hanya
terhadap kuantitas saja (berupa penambahan unit bangunan sekolah) tetapi harus
juga memperhatikan kualitas dari fasilitas yang sudah ada sebelumnya.
Dilihat dari segi efisiensi operasional, hal ini jelas
belum memenuhi prinsip tersebut, karena biaya operasional disini tidak
diperhitungkan dengan baik. Penambahan unit sekolah baru memang bagus. Akan
tetapi harus juga diperhatikan biaya perawatan untuk unit-unit baru tersebut.
Karena banyaknya unit baru mengindikasikan bahwa banyak pula unit-unit yang
harus dirawat dan diperbaiki setiap tahunnya. Seharusnya kualitas akan mutu
pendidikan terus ditingkatkan dengan kualitas guru yang semakin baik, buku-buku
pelajaran tersedia dan biaya pendidikan yang terjangkau.