BUDAYA ORGANISASI HOTEL
THE RITZ CARLTON
DISUSUN
OLEH :
Beginoto Timotius Hezaluto (1206273730)
George Rudolf (1206241041)
Lita Kodariah (1206212741)
Qorina Auliya (1206212735)
Ryandita Marisa Fitrin (1206273711)
Makalah
ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
Pengantar Teori Organisasi
FAKULTAS
ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS
INDONESIA
2014
BUDAYA ORGANISASI
HOTEL THE RITZ-CARLTON
A.
Budaya yang Tumbuh dan Berkembang di Hotel Ritz-Carlton
Ritz-Carlton merupakan salah satu merek hotel dan
resor mewah dengan 84 properti yang terletak di kota-kota besar dan tempat
resor eksklusif di 26 negara di seluruh dunia. The Ritz-Carlton mulai dikelola pada tahun 1898 oleh Ritz-Carlton Hotel Company LLC,
sebuah anak perusahaan dari Marriott International. Ritz-Carlton Hotel Company
saat ini memiliki 32.000 karyawan. Kantor pusat The Ritz-Carlton terletak di
Chevy Chase, Maryland, sebuah pemukiman di perbatasan Washington, D.C. Kejayaan
Ritz-Carlton dimulai dari seorang pengusaha terkenal, Cesaer Ritz, yang disebut
sebagai raja perhotelan. Ia melakukan revolusi dalam perhotelan dengan mengubah
struktur sistem organisasi dan memberikan kemewahan kepada setiap pengunjung. Tujuan hotel ini
yaitu menyajikan
produk dan service yang berbeda
dibandingkan perusahan lain di industri yang sejenis.
Ritz-Carlton hotel mencoba untuk tidak hanya menjual kamar hotel, makanan
restaurant dan bar saja, tetapi
berkomitmen untuk menjual personalized
service dimana pelanggan dapat merasakan sasuatu hal yang
berbeda dibandingkan standar pelayanan yang diberikan oleh hotel lainnya.
Jaringan hotel Ritz-Carlton selalu
memberikan kepada tamunya pelayanan spesial yang berbeda di tiap negara seperti
sambutan dan jamuan dengan piano concertos, dan kamar hotel lengkap
dengan armoire, tempat tidur, dan televisi, kamar
mandi dalam, adanya dress code untuk
para pelayan, bunga-bunga yang diletakkan di setiap sudut ruangan, penyajian makanan siap saji yang
bisa dipilih oleh setiap pengunjung,
serta
suguhan permainan musik yang memberikan dan menjaga privasi kepada
para pengunjung. Hal tersebut
dilakukan untuk memberikan “personalized
touch”, Ritz juga selalu menyesuaikan tiap cabang
hotelnya dengan kondisi setempat. Hal ini melingkupi, lokasi pintu masuk dan
keluar untuk tamu penting, penyesuaian menu dan delivery service, serta interior yang bernuansa lokal.
Sesuai motto The Ritz-Carlton, “We are Ladies and Gentlemen serving Ladies and Gentlemen” bahwa
dalam pelayananya sebuah kemewahan
yang tersaji untuk para pengunjung dengan perawatan dan
kenyamanan tamu merupakan tugas utama mereka. Tiga langkah terpenting dalam melayani
adalah menyapa para tamu dengan hangat dan tulus dengan menggunakan nama
mereka, siap selalu dalam mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan para tamu, perpisahan
dengan senyuman dan selalu menggunakan nama tamu sehingga dalam pelayanannya
ada ikatan erat antar pengunjung dan pelayan.
Pada awal tahun 1990, pada saat Patrick Mene menjabat sebagai chief quality officer, tantangan
terberat yang dihadapi olehnya adalah dalam hal pengelolaan sumber daya manusia
yang dapat menciptakan nilai bagi perusahaan. Menurut Patrick Mene, untuk
menciptakan sumber daya manusia yang handal diperlukanya pengembangan proses
dan sistem yang ada. Selain itu penerapan konsep Total Quality Management (TQM) di dalam struktur organisasi dan program pemenuhan
kebutuhan spesifik pelanggan terus dikembangkan.
Sumber daya manusia merupakan hal penting untuk organisasi di manajemen
Ritz Carlton. Dengan sumber daya manusia yang handal, akan didapatkan suatu bisnis yang sukses. Tentu saja
untuk merealisasikan hal tersebut, Ritz Carlton tidak
hanya melihat status karyawan sebagai tenaga kerja saja, tetapi juga harus
melihat dari sisi sumbangsih pikiran, empati dan perasaan yang diberikan oleh
karyawan kepada perusahaan. Dikarenakan Ritz Carlton sangat memikirkan
kesejahteraan karyawan, tidak heran turnover
karyawan hanya sekitar 20% dimana presentase ini jauh dibandingkan dengan
rata-rata tuernover hotel baru
di perusahan lain.
Menurut Inghilleri, vice president of
Human Resource, Ritz Carlton sangat
menghargai karyawan yang bekerja sehingga dapat meningkatkan dedikasi dan
komitmen kepada perusahaan. “Day 21”
merupakan sebuah pelatihan pada saat karyawan yang baru masuk,
dimana pelatihan ini meneliti sejauh mana seorang karyawan dapat memberikan
komitmen yang tinggi kepada perusahaan. Tentu saja seorang karyawan berhak
mendapatkan jenjang karir yang lebih apabila dapat menyelaraskan tujuan pribadi
dalam bekerja dengan tujuan perusahaan. Seorang karyawan juga dimungkinkan
untuk mendapatkan posisi dan tanggung jawab yang lebih tinggi. Penilaian performa
karyawan tidak hanya diatur dari Service Quality Indicator, tetapi
juga oleh karyawan itu sendiri dengan cara pemilihan jenis pekerjaan yang
berbeda-beda.
Pada tahun 1990 pula mulai diterapkan
standar proses perubahan dan penyempurnaan dari pembukaan hotel baru yang
disebut The seven Day Countdown.
Dalam dua hari pertama dilakukan pengenalan mengenai nilai dan
budaya perusahaan kepada karyawan. Lima hari
selanjutnya didiberikan pelatihan menyangkut keterampilan khusus dan cara-cara
memberikan service kepada pelanggan
secara nyata.
Untuk memperkenalkan dan memfokuskan karyawan pada value perusahaan diterapkanlah The Gold Standar yang terdiri dari Three steps of Service, The Motto, The
Employee Promises and The Credo. Untuk menyempurnakan konsep tersebut, Schulze mencoba untuk
mengajarkan suatu konsep yang baru dimana Ritz Carlton bukan sekedar menjual
kamar hotel saja tetapi lebih menitikberatkan pada customer service excellence. Dengan konsep The
Seven Day Countdown yang sudah berjalan selama ini harus dipertimbangkan
apakah strategi ini cukup relevan diterapkan lagi pada pembukaan hotel baru
apabila adanya kenaikan standar service
pada suatu karyawan, mengingat
semakin kompleksnya pelatihan yang harus diberikan.
Menurut analisis kelompok kami, Hotel Ritz-Carlton
memiliki budaya khas yang telah melekat sejak lama. Hotel ini memiliki tujuan
yang jelas dalam melayani pelanggannya, karena pelayanan terhadap para tamu
merupakan satu hal yang sangat diperhatikan di Ritz-Carlton.
Terdapat keterkaitan antara budaya Ritz-Carlton dengan
teori dimensi budaya organisasi. Diantara dimensi yang paling menonjol adalah;
(1) Perhatian pada detail : Ritz-Carlton sangat memperhatikan detail, seperti
telah dijelaskan bahwa di hotel ini, para karyawan dituntut untuk melayani
dengan sepenuh hati, seperti adanya sebutan “We are Ladies and Gentlemen serving Ladies
and Gentlemen” yang berarti
“kami para wanita dan laki-laki terhormat yang melayani wanita dan laki-laki
terhormat pula”. Detail selanjutnya ditunjukkan dengan cara menyapa para tamu
dengan hangat dan tulus dengan menggunakan nama mereka, sehingga terbentuk
ikatan erat antara pengunjung dan pelayan; (2) Orientasi Hasil : Ritz-Carlton
sangat menekankan pencapaian tujuan organisasi yang terdiri dari nilai atau value yang ingin dibentuk, value tersebut adalah The Gold Standard yang terdiri Three steps of Service, The Motto,
The Employee Promises and The Credo. Dalam pencapaian nilai tersebut tentu Ritz-Carlton sangat memperhatikan
proses, seperti adanya pelatihan untuk para karyawan, pelatihan yang disebut dengan “Day 21” dan “The seven
Day Countdown”; (3) Orientasi Manusia : Ritz-Carlton juga membuka
diri untuk menerima masukan dari para karyawannya, hal ini dapat terlihat dari
adanya sumbangsih pikiran empati dan perasaan yang diberikan dari para karyawan
dalam melihat perkembangan budaya Ritz-Carlton; (4) Orientasi Tim :
Ritz-Carlton merupakan salah satu organisasi yang mengutamakan orientasi tim
daripada agresivitas. Karena dalam hal pelayanan yang diberikan terhadap
pelanggan, biasanya tidak hanya dilayani oleh satu karyawan saja, tetapi saling berhubungan satu
sama lain. Sehingga jelas, dalam persaingan antar karyawan sangat minim dan
lebih mengutamakan kerja sama; (5) Inovasi dan pengambilan risiko : Ritz-Carlton
telah berani mengubah budaya dalam hal pelayanan, budaya yang semula menjadi
kaku kini lebih natural. Itulah teori dimensi budaya organisasi yang diterapkan
oleh Ritz-Carlton.
B. Cara Ritz-Carlton Mengubah Budaya tanpa Mengubah Tujuan Awal
Organisasi
Seiring berkembangnya jaman, semakin banyak hotel yang
memberikan pelayanan yang eksklusif terhadap pelanggannya. Untuk dapat bertahan
dan mengembangkan budaya yang sejak lama diterapkan di hotel ini, diperlukan
pembaharuan untuk menyesuaikan dengan kondisi pesaing yang terus meningkat. Kekuatan
budaya organisasi yang terbentuk
selama ini terlihat dari berbagai penghargaan yang telah diterima, diantaranya penghargaan Malcolm Baldrige National
Quality Awards di tahun 1992 yang merupakan sebuah
penghargaan prestisius dalam bidang manajemen kualitas. Dalam satu dekade
berikutnya, The Ritz-Carlton berhasil memperoleh penghargaan dalam bidang quality awards sebanyak 121 kali.
Keberhasilannya ini bermula dari disiplin penerapan key performance indicator untuk mengukur kinerja setiap unit kerja
dalam perusahaannya.
Untuk mempertahankan dan mengembangkan budaya organisasi
demi prestasi yang telah dicapai. Ritz-Carlton cukup cermat menanggapinya, pada
tahun 1992 dimulailah serangkaian aktifitas untuk menemukan indikator
keberhasilan bisnis The Ritz.
The Ritz-Carlton Hotel kemudian melakukan
focus group kepada para pelanggan
internal dan eksternal, karyawannya sendiri, dengan bantuan tenaga ahli untuk
menginterpretasikan apa yang sesungguhnya diinginkan pelanggan, Ritz membangun
seperangkat indikator keberhasilan pekerjaan. Lima puluh persen dari indikator
tersebut adalah ukuran standar finansial dan pemasaran. Lima puluh persen
lainnya berhubungan dengan kualitas operasi, kualitas karyawan dan kualitas
kepuasan pelanggan.
Ritz-Carlton mulai menyadari tingginya
tingkat persaingan dalam jasa perhotelan, maka
dari itu dibutuhkan keunggulan-keunggulan yang
khas dan yang membedakan dari perusahaan hotel lainnya. Dengan menyadari sejumlah
orang dengan latar belakang, kepribadian, emosi, dan ego yang beragam. Maka dibutuhkan budaya baru untuk lebih menyesuaikan
dengan keadaan para pesaing
Ritz-Carlton memiliki budaya yang kuat. Budaya
yang kuat memang memiliki keunggulan dan tingkat keberhasilan yang tinggi.
Namun, budaya organisasi yang kuat juga memiliki kelemahan. Budaya organisasi yang
kuat cenderung menghambat para karyawan untuk berani mencoba cara-cara baru yang terutama
dibutuhkan dalam menghadapi situasi yang berubah cepat. Hal tersebut terilihat pada perubahan budaya dalam
pelayanan pelanggan di Hotel Ritz-Carlton pada pertengahan tahun 2006. Salah
seorang eksekutif perusahaan tersebut mengatakan “senyuman harus muncul
secara alami”, karena pada awalnya cara-cara lama para karyawan terkesan kaku
terhadapa nilai-nilai yang ditanamkan dalam melayani para pelanggan.
Untuk mengatasi hal tersebut
dibuatlah pendekatan baru dalam melayani pelanggan, dimana para karyawan
mencari cara sendiri untuk membuat senang pelanggan. Budaya yang kuat inilah yang kemudian dicoba untuk
diubah. Meskipun cara-cara lama telah
ditinggalkan dan menerapkan pendekatan baru, hasil atau tujuan yang dimaksud
tidak berubah
Setelah perubahan budaya tersebut, para karyawan
yang pada awalnya terkesan kaku dan seolah-olah mengulangi kata-kata yang ada
didalam buku manual, sekarang lebih terlihat alami, santai dan otentik. Kesan
kaku dan lainnya yang ada pada cara lama itulah merupakan kelemahan dari budaya
organisasi yang kuat. Dalam hal ini, perusahaan melakukan perubahan budaya
organisasi agar tetap bertahan sebagai pelayanan terbaik. Para karyawan diberi
kebebasan untuk mecari dan menggunakan cara apa
saja, tetapi dengan satu tujuan yaitu bagaimana
membuat pelanggan senang.
Seiring dengan berjalannya waktu, sebuah perusahaan
yang dinamis harus mengikuti perkembangan untuk membuat perusahaannya mampu
bertahan dan bersaing dengan perusahaan lain. Dengan menciptakan budaya inofatif dan kreatif yang
dibutuhkan adalah adanya keterlibatan, komunikasi, kreativitas dari berbagai pihak.
Perusahaan yang sukses merupakan perusahaan yang
mampu memunculkan inovasi-inovasi terbaru. Untuk sebagian perusahaan budaya
lama mungkin dianggap sebagai
ciri dari perusahaan tersebut, namun ada baiknya budaya lama diubah atau
diperbaiki dengan mengadopsi budaya baru yang tidak kalah lebih bagus dari
budaya sebelumnya. Akan tetapi terdapat beberapa tantangan yang dialami
perusahaan dalam mengubah budaya lama.
Inilah yang kemudian menjadi tantangan bagi Ritz-Carlton dalam mengubah budaya
lamanya. Menurut peneliti manajemen, Goran Ekvall
budaya inovatif memiliki
ciri dan tantangan sebagai berikut :
1. Tantangan dan
keterlibatan : Apakah para karyawan terlibat, termotivasi dan berkomitmen pada
sasaran atau tujuan jangka-panjang serta kesuksesan perusahaan?
2.
Kebebasan : Dapatkah para karyawan mendefinisikan pekerjaannya sendiri secara
independen, berpendapat secara bebas dan mengambil inisiatif dalam berbagai
aktivitas kerja mereka?
3.
Kepercayaan dan keterbukaan : Apakah para karyawan memperlihatkan sikap saling
mendukung dan menghormati terhadap satu sama lain ?
4.
Waktu bagi gagasan : Apakah para karyawan diberi cukup waktu untuk menggali
lebih jauh ide-ide sebelum diharuskan mengambil tindakan ?
5.
Keceriaan atau humor
: apakah tempat kerja organisasi bersifat ceria dan menyenangkan ?
6.
Penyelesaian Konflik : Apakah dalam pengambilan berbagai keputusan dan
penyelesaian berbagai masalah para individu lebih mendahulukan organisasi atau
pribadi ?
7.
Silang Pendapat : Apakah para karyawan diperbolehkan untuk mengutarakan
pendapat pribadinya dan mengusulkan gagasan untuk ditinjau serta
dipertimbangkan ?
8.
Pengambilan Risiko : Apakah para manajer memberikan toleransi terhadap
ketidakpastian dan kerancuan serta apakah para karyawan dihargai atas
keberaniannya mengambil risiko ?
Dengan adanya tantangan-tantangan tersebut maka
Ritz-Carlton harus mempertahankan budaya barunya agar tetap hidup. Sebuah budaya dalam Ritz Carlton
dipertahankan hidup oleh para anggota organisasi melalui berbagai cara. Cara pertama
dengan kriteria seleksi
karyawan. Proses seleksi karyawan biasanya tidak hanya berdasarkan kemampuan, tetapi juga dengan melihat apakah
kandidat calon karyawan mampu berbaur dengan baik dalam oraganisasi atau perusahaan tersebut. Pada saat seleksi pula kandidat memperoleh informasi
bagaimana kehidupan di dalam organisasi tersebut dan memutuskan apakah dia merasa nyaman dengan apa yang didengar atau
diketahuinya. Ritz-Carlton
harus selektif dalam menerima karyawan baru, karena tidak semua kandidat dapat
beradaptasi dengan budaya yang ada di Ritz-Carlton.
Cara kedua adalah tindakan jajaran manajemen puncak atau keputusan menejer yang membawa dampak besar terhadap budaya sebuah organisasi. Pentingnya mengubah budaya dengan selalu “melihat
ke dalam” dan menjadikannya berorientasi pada pelanggan, bila ingin bertahan
dengan lingkungan yang terus mengalami perubahan. Ritz-Carlton harus cermat dalam
melihat perkembangan yang ada di lingkungan eksternal, dengan tidak melupakan
perkembangan yang ada dalam organisasi tersebut. Hal ini berarti harus ada
kontrol terhadap lingkungan internal dan eksternal.
Cara ketiga dalam
mempertahanka budaya baru adalah dengan proses sosialisasi. Yaitu sebuah proses yang membantu para
karyawan memahami cara-cara organisasi menjalankan berbagai pekerjaan. Salah
satu manfaat dari sosialisasi ini adalah membantu karyawan memahami budaya
organisasi dan menjadi lebih antusias serta berpengetahuan dalam melayani
pelanggan. Manfaat lain dari sosialisasi yaitu meminimalkan peluang terjadi
keguncangan pada tatanan prilaku dan kebiasaan dalam organisasi, akibat
masuknya karyawan yang kurang paham akan budaya organisasi.
Selain itu budaya organisasi dapat
ditanamkan kepada karyawan melalui :
1.
cerita-cerita
: Dalam organisasi biasanya terdapat kenangan atau berbagai kejadian atau
orang-orang penting, termasuk hal-hal seperti pendirian kisah organisasi,
pelanggaran atas peraturan yang parah, renungan mengenai kesalahan-kesalahan di
masa silam. Kisah ini bisa menjadikan cerminan untuk para karyawan dalam
membangkitkan gairah untuk mencapai tujuan organisasi. Kisah-kisah perolehan
penghargaan bagi hotel ini dapat memotivasi para karyawan untuk terus
memperbaiki kinerjanya.
2.
Acara
Simbolis (ritual) : Ritual merupakan kegiatan rutin yang bersifat sakral maupun
menjadi ciri khas dari sebuah organisasi. Biasanya ritual dilakukan untuk
menumbuhkan semangat dalam bekerja. Ritz-Carlton harus tetap mempertahankan waktu 15 menit
pada pagi hari untuk menumbuhkan semangat dan mengingatkan para karyawan
terhadap tujuan awal organisasi tersebut, yaitu melayani para pelanggan dengan
baik.
3.
Simbol-simbol
kebendaan : Simbol-simbol kebendaan menyampaikan pesan kepada karyawan tentang
siapa yang dianggap penting dan perilaku apa yang dianggap patut di dalam
organisasi.
4.
Bahasa
: Bahasa ialah cara sebuah organisasi menggunakan bahasa untuk menyatukan para anggotanya
dalam sebuah budaya.
Dengan memperhatikan tantangan dan tata cara yang harus
dilakukan dalam mempertahankan organisasi. Maka Ritz-Carlton dapat berkembang
dan terus bersaing dengan hotel-hotel mewah lainnya. Berbagai penghargaan yang
diterima oleh Ritz-Carlton dapat menjadi motivasi untuk setiap karyawan dalam
melayani para tamu. Ritz-Carlton cukup cermat dalam memperhatikan lingkungan,
itulah sebabnya hotel tersebut dengan percaya diri mengambil inovasi baru dalam
budaya organisasinya, dari konsep kaku menjadi lebih natural. Ritz-Carlton telah sukses
dalam menerapkan dan mengembangkan budaya organisasi yang ada pada setiap para pekerja,
sehingga menciptakan ciri khasnya sendiri yang menjadikan bahwa ketika menginap
di cabang
hotelnya di seluruh
dunia, pelanggan akan sangat terpuaskan oleh kualitas pelayanan yang diberikan.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dengan adanya budaya organisasi yang diciptakan The Ritz-Carlton, mereka dapat
menyajikan standar kualitas dari pelayanan yang diberikan berbeda dari hotel
mewah lainnya. The Ritz-Carlton menciptakan budaya
pelayanan maksimal yang sangat menghargai para tamunya tanpa mengurangi rasa
menghargai pada setiap pekerjanya. Hotel
ini membuat budaya bahwa tujuan utama pada
pelayanannya adalah kepuasan pelanggan dan pelayanan yang tulus.
Walaupun budaya pada The Ritz-Carlton berubah dari kaku
menuju lebih natural, hal ini tidak menghilangkan proses “pelayanan jempolan”
yang disuguhkan. Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, The Ritz-Carlton
harus bisa mempertahankan budaya baru dengan memperhatikan proses seleksi
karyawan, keputusan manajer puncak dan sosialisasi antar karyawan. Dengan
demikian, Ritz-Carlton bisa mempertahankan prestasi yang selama ini telah
diraihnya.
B.
Saran
Organisasi
lain perlu mencontoh dan menerapkan budaya organisasi
dengan memperhatikan pelayanan kepada para pelanggan. Selain itu organisasi
harus membuka diri terhadap perubahan positif yang diterima dari lingkungan
internal maupun eksternal. Sehingga organisasi tersebut mampu bersaing dengan
organisasi lain dan dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Robbins, Stephen. 2002. Prinsip-Prinsip Perilaku Organisasi Edisi Kelima.Jakarta : Erlangga
Robbins, Stephen. Coulter, Mary. 2010. Manajemen edisi kesepuluh. Jakarta : Erlangga
Budaya Organisasi, http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/04/teori-budaya-organisasi.html
Identifikasi
indikator kinerja, http://darminpella.com/2008/08/15/identifikasi-indikator-kinerja/
Pengertian Budaya Organisasi,http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/pengertian-budaya-organisasi.html, diakses pada Rabu, 12 Maret 2014, 08:38 WIB
Pengertian dan fungsi budaya
organisasi, http://dhino-ambargo.blogspot.com/2013/05/pengertian-dan-fungsi-budaya-organisasi.html
Pentingnya Budaya Organisasi,
http://manajemenppm.wordpress.com/2013/05/20/budaya-organisasi-memangnya-penting/
The Ritz-Carlton Mega
Kuningan, http://www.ritzcarlton.com/en/Properties/Jakarta/Default.htm
[1] Pengertian Budaya Organisasi, http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/pengertian-budaya-organisasi.html, diakses pada Rabu, 12 Maret 2014, 08:38 WIB
Apabila Anda mempunyai kesulitan dalam pemakaian / penggunaan chemical , atau yang berhubungan dengan chemical,oli industri, jangan sungkan untuk menghubungi, kami akan memberikan konsultasi kepada Anda mengenai masalah yang berhubungan dengan chemical.
BalasHapusSalam,
(Tommy.k)
WA:081310849918
Email: Tommy.transcal@gmail.com
Management
OUR SERVICE
Boiler Chemical Cleaning
Cooling tower Chemical Cleaning
Chiller Chemical Cleaning
AHU, Condensor Chemical Cleaning
Chemical Maintenance
Waste Water Treatment Plant Industrial & Domestic (WTP/WWTP/STP)
Degreaser & Floor Cleaner Plant
Oli industri
Rust remover
Coal & feul oil additive
Cleaning Chemical
Lubricant
Other Chemical
RO Chemical